Something to Share With…

just from a learner who still in the learning stage…

Akhir dari sebuaah perjalanan

Posted by Ismadi Santoso on April 11, 2007

Kamis tengah malam, hp ku berdering, tidak seperti biasanya ibu menelpon ku selarut itu, ada hal penting pikirku. Benar saja, ibu mengatakan kalau bapak (alm) sudah masuk rumah sakit dalam kondisi yang buruk. Beliau meminta ku segera pulang ke Balikpapan

untuk menemani bapak yang sedang sakit parah. Tiket telah kubeli beberapa hari sebelumnya dengan ditemani seorang yang sangat spesial buat ku saat itu. Yah, sabtu pagi jam 6.25 tanggal 18 maret 2007 adalah jadwal take off pesawat yang akan ku tumpangi.

Di Balikpapan, kulihat bapak sudah tidak berdaya lagi. Badannya yang dulu kekar, bahunya yang kokoh, otot ototnya yang jauh lebih berisi di banding ku sudah tidak ada lagi. Sedemikian cepatkah semua itu berubah. Dokter memvonis ayah mengidap kangker di hati dan pankreasnya. Allah, kuasamu memang tiada banding, belum selesai lagi kami berjuang untuk kakak sekarang Ayah yang juga harus menghadapi hal serupa. Bukan maksudku mengeluh, tapi kuatkan lah iman kami ya Rabbi, ikhlas kami, dan ihsan kami untuk terus bermunajad dan mendekatkan diri kepada Mu.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(Yaitu) orang orang yang bila musibah (bencana) menimpa dirinya, mereka berkata (dengan hati yang yakin), Sungguh, kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya lah kita semua akan kembali.”
QS Al Baqarah (Sapi Betina) 2:155-156

Semenjak saat itu aku sadari, beban yang dulu ada di bahu bapak, beralih sepenuhnya ke bahuku. Aku baru merasakan betapa beratnya beban yang bapak pikul selama ini. Allah, jadikanlah aku anak yang berbakti kepada ke dua orang tua ku ya Allah, Amien.

Aku tahu bahwa dokter sudah menyerah, sudah tidak ada harapan kata mereka…? Tapi bukankah harapan itu harus digantungkan pada Mu ya Rabb.

Apakah harus aku berhenti di sini….?

Tidak suara hati nurani ku mengatakan aku harus terus berjuang sampai titik darah penghabisan, untuk bapakku.

Kuputuskan untuk membawa ayah ke RS Dharmais Jakarta, dokter pun tidak bisa melarang ku. Tiket untuk membawa pasien beserta (stretcher) sudah kubeli, meski dengan harga yang tidak murah…. Dan keluarga besar ku semua menentang keputusanku yang gegabah kata mereka.

Hari itu sabtu, sudah kantung darah yang ke 18 yang aku carikan untuk bapak, terimakasih buat siapa saja yang sudah mendonorkan darahnya untuk bapak. “Jazakumullaha Khairan Katsiraa”, namun kulihat kondisi bapak kian lemah, lemah, dan semakin melemah…

Minggu pagi, petunjuk itu datang juga, ayah mengalami pendarahan hebat sekali…

Adik terus menangis, ibu pun demikian. Ya Rabb, apa arti semua ini Ya Malik Ya Salam.. ini kah tanda kesalahanku.

Dokter mencabut ijin terbang untuk bapak, dan yang terjadi setelah itu semua tudingan diarahkan ke wajah ku, kecerobohanku, kebodohanku, ke keras kepalaan ku. Salah kah aku ya Rabb yang coba memaksimalkan ikhtiar ku ini?

Setelah itu monitor jantung dipasang ke tubuh ayah beserta selang makanan. Sebelumnya selang infus di kedua tangan ayah ku telah terpasang, selang oksigen, dan beberapa selang lainnya. Hari ini masih ada tambahan kabel serta selang lagi… Allahu Rabbi…Ampuni hambamu ini…

Senin pagi aku menelpon kakakku untuk bicara dengan bapak, sejak salat isya bapak udah ga sadarkan diri lagi. Bapak bisa merespon dengan baik pembicaraan Mbak ku meski dalam keadaan tak sadar. Setelah itu bapak tampak tenang sekali….

Allahu Akbar Allahu Akbar…. Panggilan adzan dzuhur masuk ke kamar tempat bapak di rawat, aku lapar sekali, belum sempat makan dari pagi, aku putuskan tuk makan dulu baru solat. Belum sempat aku suapkan makan siangku, monitor jantung bapak menunjukkan denyut yg terus menurun bahkan di bawahj normal. Kupanggil dokter dan perawat, mereka Cuma bisa bilang tolong di bantu dengan doa ya mas. Ibu, aku, dan adik trus berdoa, dan membimbing bapak tuk ucapkan kalimat Nya. Segala tindakan sudah coba dilakukan tim medis itu, tapi Allah SWT. Berkehendak lain, itulah akhir perjalanan hidup Bapak.(almarhum). Bapak alm berangkat dengan tenang, dan senyuman yang menghias wajahnya.

“Setiap yang bernyawa pasti akan mati” itu janji Allah di dalam Al Qur’an yang telah dibuktikan sekali lagi saat itu. Aku berusaha melakukan kewajiban ku sebaik mungkin sebagai anak laki2 satu2nya. Aku tau aku tidak sebaik bapak alm yang sudah terbiasa mengurusi jenazah, aku malu sekali karena aku tau bapak alm pasti kecewa karena ku.

Bahkan untuk memandikan beliau pun aku bingung, aku tau aku pernah belajar ini, tapi kemana itu semua, kemana? Ampuni aku ya Allah, dan Maaf kan anak mu ini bapak, maafkan karena aku masih terlalu jauh dari harapan mu. Teman Bapak alm yang memanduku untuk memandikan ayah, mengkafani dan menyolatkannya. Allah, bimbinglah hamba mu ini untuk menjadi yang lebih baik lagi dan terus memperbaiki diri.

Ba’da ashar Bapak alm diantar menuju peristirahatan yang terakhir. Diiringi ambulance yang meraung-raung membuka jalan, dilepas oleh tangis air mata keluarga, dan teman-teman yang menyayanginya.

Bersama si teman Bapak Alm, aku dan seorang teman ku lompat ke dalam lobang kubur. Aku pastikan tuk meletakkan posisi Bapak senyaman mungkin, menghadap ke kiblat agar dia bisa tidur dengan nyenyak. Tidak ada lagi nyamuk yang boleh menggigit kulitnya. Tidak ada lagi mimpi-mimpi buruk yang boleh mengganggu tidurnya. Biarkan Bapakku sekarang tidur tenang untuk selama-lamanya. Aku sendiri yang memasangkan nisan di pusaranya dengan air mata ku.

Selamat jalan Bapak, terimalah Bapak ku disisi Mu ya Rabb, beri beliau tempat yang layak sebagai mana amal baik nya semasa hidupnya. Doa kami meyertai mu bapak, dari kami keluarga dan teman teman yang menyayangi mu.

Saat saat terakhir kupanjatkan doa secara khusus di pusara bapakku, lama sekali aku berdoa, tiada satu orangpun yang berani mengganggu kekhusu’an ku saat itu.

Aku pikir aku adalah orang terakhir disana, ternyata masih ada orang lagi yang juga ingin melakukan hal yang sama, dia sahabat karib alm bapak ku. Saat itu terlihat dengan jelas bahwa bapak adalah sosok yang luar biasa, ada banyak orang yang merasa kehilangan, bukan hanya kami keluarganya tercinta. Tapi juga saudara saudara seiman yang lain yang sangat dekat di hati beliau.

Keesokannya pun ada yang minta untuk diantarkan ke makam bapak, karena dia tidak bisa hadir pada saat pemakaman. Kulihat airmatanya menetes di atas pusara bapakku, sayup sayup lirih kudengar, kenapa ini semua terjadi begitu cepat?. Bapak sedemikian berarti hidupmu buat mereka. Meskipun kau telah tiada, tapi pelajaran demi pelajaran dapat terus ku petik dari jalan hidupmu.

Bahwa hidup kita harus bermanfaat bukan saja untuk kita sendiri, tapi juga untuk sekitar kita,” Hablumminallah wa Hablumminannas”. Waallhu A’lam bis Sawab…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: