Something to Share With…

just from a learner who still in the learning stage…

Mengejar Mas Mas…

Posted by Ismadi Santoso on May 29, 2007

broken-rose.jpg

Senin 28 Mei 2007, bertepatan dengan hari terakhir kontrak aku dan temen2 kantor ku, kami sepakat untuk nomat jam 19:45. Itung-itung refreshing, terakhir kali kita nomat bareng udh beberapa bln yg lalu. Megejar Mas Mas film yg kami pilih. Dengan mengambil setting di Jogja, film ini memaksaku untuk flash back ke 8 tahun kebelakang saat aku masih kul di kota pelajar itu. Dari stasiun tugu, Jl. Mangkubumi, Jl. Malioboro, Jokteng, Jl. Mataram, Kali Code, semuanya mengingatkan ku pada episode hidup 8 tahun yg lalu itu dengan sluruh pasang surut dan lika-likunya. Dalam kesedihan ku merasa sendiri, seolah Kota Jogja tidak ingin menerimaku. Nomaden, itulah hidupku di 3 bulan awal di Jogja. Berpindah-pindah dari kosan Mas yg satu ke Mas yg lainnya, dari satu asrama ke asrama yg lainnya. terus dan terus bergiliran. 99 menangis mungkin tema yg paling pas untuk episode hidupku saat itu. Kesalahan fatal yang kulakukan saat itu adalah aku merasa sendiri (baca : kosong). Padahal ada Dia, Dzat yang Maha Segala Maha yang selalu menemaniku di setiap hembusan nafasku.

Ramahnya masyarakat jogja yg lugu, ndeso, dan katrok sangat terlihat jelas lewat tokoh “Mas Parno”. Dengan ketulusannya dalam menyayangi dan memberi akhirnya bisa menyadarkan Ningsih (Dina Olivia) yg terpaksa Melacurkan diri di lokalisasi SARKEM (pasar kembang) dengan alasan tak punya pilihan lain untuk hidup. Padahal Ningsih sangat menyadari bahwa yang dilakukannya itu salah (tidak benar). Tapi Ningsih membelenggu dirinya sendri dengan kalimat ”tak punya pilihan lain untuk hidup”. Ironi kehidupan yang terlalu dibuat-buat.

Tuhan telah menciptakan manusia sebagai mahluk yg paling sempurna di jagad raya ini. Pemikiran sempit seperti Ningsih itu pada dasarnya hanya meremehkan dirinya sendiri sebagai mahluk ciptaan Nya, yg dengan sendirinya juga berarti meremehkan Sang Penciptanya. Manusia dibekali sukma kebaikan dan kejahatan didalam setiap jiwa mereka. Pilihan, itulah hakekat azali tentang kehidupan. Jika kita membiarkan sukma kejahatan itu yg menguasai diri, maka terbentuklah manusia-manusia seperti Ningsih. Jika ketakutan yg berlebihan (baca: Keimanan dan Keyakinan terhadap Penciptan Nya memudar) telah menguasai dirinya, maka keberanian untuk melepaskan sukma kebaikan dari dlm diri itu pun akan punah dengan sendirinya. Dan pada akhirnya terbentuklah “Ningsih-Ningsih” yang lainnya dalam bentuk yg sama atau beda.

Ningsih : Pernahkah kamu merasakan ditinggalkan seseorang yg sangat kamu sayangi?

Sahnaz : Pernah mbak, Rasanya kosong……? sepi sekali

Ningsih: Dalam kekosongan itu, terkadang kita melakukan kesalahan dalam mengisinya? Contohnya aku, kamu jangan pernah jadi sepertiku ya Naz?

Perhatikanlah! ada suara hati yg menjerit pilu saat dia mengingkari kebenaran. Ada keinginan untuk kembali kejalan yang benar, tetapi dia terus menafikkannya. Beruntunglah Ningsih karena pada akhirnya “BERANI” untuk menantang setan yg selama ini menguasai dirinya. Berani untuk mengedepankan sukma kebaikan yang telah ada di dalam jiwanya semenjak ruh ditiupkan Nya ke jasadnya. Berbahagialah bagi orang2 yg bisa menemukan jalan kebenaran itu selagi dia masih memiliki nafas tuk bersimpuh di khadirat Nya, memiliki waktu tuk kembali pada Nya. Sejatinya, kehidupan manusia itu tidak pernah kosong, kecuali manusia itu sendiri yg mengosongkan nuraninya sehingga setan merdeka semerdeka merdekanya untuk menjerumuskannya.

romeo_270.gif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: