Something to Share With…

just from a learner who still in the learning stage…

Archive for June, 2007

Survive

Posted by Ismadi Santoso on June 27, 2007

to survive in this world
we hold close on whom we depend
we trust him in our hopes, our fears.
but what happen when trust is lost?

where do we run
when things we believe in
vanish before our eyes?
when all seems lost?

the future unknowable
our very existence in peril…
all we can do is going back…
to The Owner of our breathe
to The Owner of our life

Posted in Core Value | Leave a Comment »

KALAH

Posted by Ismadi Santoso on June 21, 2007

Ketika aku merasa kalah, benarkah sesungguhnya aku telah kalah? Sebenarnya apakah hakikat kalah itu sehingga seseorang yakin bahwa dirinya telah kalah?

Itulah pertanyaan yang sering aku ulangi dalam hidupku ketika aku merasa kalah. Tetapi benarkah aku telah kalah? Benarkah mereka yang aku anggap menang telah menang? Lalu apakah yang sebenarnya disebut menang itu?

Akupun mulai membaca tentang kemenangan dan kekalahan di dunia ini dalam berbagai ragam situasi, dan akhirnya menyimpulkan:

Ketika kau masih bertemu pagi, Madi
Dan kau putuskan untuk berdiri menghadapi
Berjuang sepenuh hati di jalan Ilahi
Bukan demi dirimu sendiri
Maka saat itu, Madi
Kau telah mengakhiri hari
Dengan satu lagi kemenangan sejati

Aku pun terpekur dalam dan mengerti, bahwa sesungguhnya aku tak pernah benar-benar kalah, meski mungkin belum sampai pada menang.

Subhanallah, Walhamdulillah, Walaailaahaillallah, Wallahuakbar, Rabbigfirlii.
Hasbunallah wanni’mal wakiil.

Posted in A Confession | Leave a Comment »

Sekedar Permainan…

Posted by Ismadi Santoso on June 14, 2007

Duhai Teman!
Hindari dirimu dari permainan dan kesia-siaan
Jaga kesucianmu dalam cinta dan kasih sayang
Kenikmatan sesaat janganlah kau jadikan tujuan
Keindahan semu janganlah kau dambakan
Saatnya kini kita bangkit dan sadar diri
Bersihkan segala penyakit dan karat dari hati
Juga segala cacat dan maksiat yang membuat kita lalai
Takutlah akan suatu hari nanti
Dimana tak kan ada yang luput dari pengadilan Ilahi

Duhai Jiwa!
Ayo bangkit dan siapkan dirimu tuk hari depan
Hindari nafsu yang membuatmu lupa daratan
Ayo bergegas menuju keselamatan
Ayo berjuang, berjuang, dan teruslah berjuang
Agar kau selamat dari azab yang membinasakan
Raih kemenangan hakiki di negeri keabadian
Selamatkan dirimu dari api yang menyengsarakan

Duhai Kau!
Yang suka bermain-main di dunia ini
Ingat! Kehidupan dunia tak kan abadi
Tak cukupkah bagimu segala wejangan
Hingga kau habiskan waktumu dalam permainan
Negeri yang fana ini segeralah kau tinggalkan
Karena kenikmatannya tak lebih dari permainan
Tak ada yang abadi dalam kenikmatan dunia
Semua kan sirna bila waktunya tiba

Duhai Kalian!
Yang mengenalNya niscaya kan tahu keagunganNya
Sungguh berbeda negeri abadi dengan negeri fana
Berbeda takwa hakiki dengan takwa pura-pura
Si Fasik berbeda dengan si Muttaqien(1)
Si jujur berbeda dengan pembohong setia

(Ibnu Hazm El Andalusy)

Ket (1):
Fasik : Orang yang mengetahui perintah Allah dan laranganNya tetapi ia tidak pernah mentaatinya, sebaliknya mereka selalu melanggarnya.
Muttaqien : Orang-orang yang bertakwa kepada Allah, melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi segala larangannya.

Posted in Core Value | Leave a Comment »

Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang kau Dustakan?

Posted by Ismadi Santoso on June 14, 2007

Sudah seminggu lebih aku ngerasa ada yang aneh dengan diriku. Tubuh ini terasa berat untuk di gerakkan, dan jika malam tiba kulitku pun berubah menjadi” menyeramkan”. Alergi pikirku, tapi alergi apa? Aku selalu memvariasikan makanan ku setiap harinya, yah minimal gak monoton lah. Kalau masalah cuaca sepertinya bukan hal yg baru bagiku. Cuaca di Jkt gak jauh beda dengan cuaca di Ygy dari sisi polusinya. Dari segi temperatur udaranya juga gk jauh dg Balikpapan tanah air ku.

Diakhir pekan penyakit itu mengganas, demam tinggi, kulit yang membengkak di sana sini, tenggorokan panas, batuk2 yg kian parah. Hidung tersumbat. Parah banget gk sih. Sesaat aku teringat akan firman Nya didalam Surat Ar-Rahman : 25 “Maka nikmat Tuhan mu yg manakah yang kau dustakan?”. Ketika ku sedang sehat, aku seolah tak pernah mempedulikan jeritan ragaku. Memaksa dan terus memakasa ragaku hingga mencapai batas atau bahkan mungkin melewati batas.

Terimakasih ya Rabb, kau tegur aku lg dengan kasih sayang Mu. Aku tak kan pernah merasakan nikmatnya sehat jika aku tak pernah sakit. Maafkan aku karena aku telah melalaikan nikmat sehat yang telah kau berikan padaku. Ampuni aku karena aku selama ini kurang bersyukur kepadaMu akan nikmatMu.
Jika engkau bersyukur kepadaKu maka niscaya akan Kutambah nikmatKu padamu. Namun jika kau kufur akan nikmat Ku maka sungguh AzabKu sangatlah pedih”.
(QS. Ibrahim : 08)

Dokter cuman bilang aku terlalu lelah, dan butuh banyak istirahat. Tidak banyak komentarnya tentang apa sakitku kecuali istirahat, istirahat, dan istirahat. Dan dia pun membuatkan ku surat keterangan sakit selama 3 hari, beserta lima macam obat yg berbeda seraya berkata ”semua obat ini pasti membuatmu ngantuk dan lemah, jadi sebaiknya kamu jangan kerja dulu”. Tetapi tetep, hari pertama aku nekat ngantor karena dah kepalang nanggung janji ama si Om mo nyelesein planning 118 sites papua ku yg cuman dikasih waktu kurang dari 24 jam. FYI aku dah gk kerja ampir 2mg, dan ini aku kerjakan karena loyalitasku pada si Om, bukan untuk NSN. Sejujurnya rasanya gk karuan banget kemaren itu, aku seperti melayang aja?. Tapi janji udah diucapkan, pantang ku jilat kembali ludah ku. Dan aku kejakan itu smua dengan semangat 45:).

Sehari sebelumnya aku udah deal dengan si Om setelah papua kelar aku pengen refreshing sejenak ke tanah kelahiranku. Aku pengen menjenguk ibu dan adikku, berziarah ke makam almarhum ayahanda, dan beberapa hal lain yang harus aku lakukan. Tapi aku pasti kembali, karena urusanku dengan NSN (XSiemens) belum selesai. Dan si Om pun memberi lampu hijau, Alhamdulillah.

Yaa Rabb kubersimpuh di khadirat Mu atas segala nikmat Mu yang tlah kau berikan padaku. Dibalik sakitku, Kau beri ku kesempatan tuk menyadari betapa aku masih sering lalai selama ini, Kau beri ku kesempatan tuk kembali mengingat Mu, dan melakukan kewajiban-kewajibanku sebagai seorang Mukmin.

Yaa Maliik berikanlah kekuatan Ihsan, Islam, Iman, serta taufik & hidayahmu kedalam jiwa kami, keluarga kami, beserta orang-orang yg menyayangi kami, orang-orang yg membenci kami, orang-orang yang pernah menyakiti kami, dan seluruh muslimin dan muslimat di bumi mu ini Yaa Rahman Yaa Rahim. Sehingga kami dapat melangkahkan kaki menuju masa depan kami dijalan yang Engkau Ridhoi, untuk menggapai cinta Mu yang hakiki dan abadi. Bukakanlah pintu hati dan mata hati kami, agar kami dapat menerima kebenaran itu dengan ikhlas dan mengikuti jalannya dengan tulus. Kuatkanlah, Kukuhkanlah, Sempurnakanlah niatan hati kami di jalan cahaya Mu Yaa Shomaad.

“Ya Ilahi Rabb, kami telah mendzalimi (menganiaya) diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi”.
(QS. Al-A’raf :23)

“Ya Ilahi Rabb, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Mu. Sungguh hanya Engkaulah Yang Maha Pemberi Karunia”.
(QS. Al-Imran :8)

Posted in Another Stories... | 5 Comments »

Minaret, Panggilan dari Menara….

Posted by Ismadi Santoso on June 13, 2007

Tak ada yang tak kumiliki
Tak ada yang tak bisa kumiliki
Tak ada impian yang yang rusak karena karat
Tak ada keinginan yang terkubur

Novel ini mengambil setting di kota Khartoum Sudan dan London. Menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang bernama Najwa dengan latar belakang kudeta yang terjadi di Sudan di akhir 80an. Ayah Najwa adalah orang penting di pemerintahan sudan sebelum terjadinya kudeta. Kehidupannya pun sangat eksklusif, segala sesuatunya serba ada. Pembantu siap melayani apapun kebutuhannya. Najwa terlahir sebagai seorang Muslim, namun kehidupannya sangat jauh dari nilai2 islami. Selama masa mudanya ia jarang shalat kecuali di bulan ramadhan atau saat akan ujian semester. Hampir setiap malam Ia clubbing bersama teman2nya, pulang kerumah ketika azan subuh. Ia memiliki seorang kekasih (Anwar) yang juga terlahir sebagai seorang Muslim namun sejatinya adalah seorang atheis. Kekasihnya adalah penganut aliran kiri dikampusnya yg selalu menentang pemerintahan yg sedang berkuasa melalui tulisan2nya di media kampus atau pun demontrasi2.

Dan ketika kudeta itu terjadi, ayah najwa ditangkap dan diadili dan dihukum mati. Najwa bersama ibu dan saudara kembarnya pun pindah ke London untuk mencari suaka politik. Selama ibunya masih hidup najwa dan saudara kembarnya (omar) dapat hidup dengan layak. Namun tak lama kemudian ibunya jatuh sakit, dan omar kecanduan heroin. Ibunya pun meninggal dan omar masuk penjara. Najwa tinggal sebatangkara di London, tanpa keluarga juga tidak punya keahlian. Pada saat yg hampir bersamaan datanglah Anwar dari Sudan yg juga mencari suaka di Inggris. Pemerintahan yg didukungnya jg baru saja di kudeta oleh rezim militer. Najwa pun menghabiskan banyak waktu dengan kekasih lamanya itu, meski dia menyadari kekasihnya itu seorang atheis yg selalu memintanya melakukan hal yg menentang prinsip dan keyakinannya. Semua tabungan yg dimiliki Najwa pun habis untuk membiayai hidup Anwar di London. Semua itu ia lakukan atas nama cinta, najwa slalu berfikir mungkin anwar atheis tapi ada beberapa hal yg sangat dia sukai dari dirinya. Najwa terus berfikir bahwa ia takkan pernah bisa lepas dari anwar. Sebuah pemikiran yg membelenggu jiwa dan raganya sendiri dengan sangat kuatnya. Study PhD anwar pun dibiayai najwa, untuk kekasihnya tercinta itu ia rela melakukan apa saja. sehingga tanpa disadarinya ia telah menghabiskan seluruh harta peninggalan orangtuanya.

Najwa pun terpaksa menghidupi dirinya dengan menjadi pembantu rumah tangga di London karena tidak ada apa2 lagi yg ia punya untuk melanjutkan hidupnya, dan ia pun tidak punya keahlian apa2. Sejak saat itu ia mulai merasakan kekosongan yg sangat di dalam dirinya. Saat menjadi mahasiswa di Universitas Khartoum dulu najwa senang melihat orang2 berkumpul di taman kampus untuk menggelar tikar dan melaksanakan shalat magrib berjamaah. Ia merasa nyaman menyaksikan itu semua, jauh di dalam hatinya sebenarnya ia ingin bisa seperti mereka merasakan nikmatnya shalat. Tetapi, ia telah menutup mata hatinya sendiri sehingga sangatlah sulit untuk menerima kebenaran dan meniti jalan kembali padaNya. Setelah usianya mendekati akhir 30an barulah tergerak hatinya untuk melangkahkan kaki kemasjid. Mengikuti pengajian demi pengajian. Najwa sangat serius dengan semua itu, setiap hari doa ia panjatkan untuk meminta ketenangan hatinya dan petunjuk Tuhannya. Dengan izin dan rahmat Allah akhirnya najwa dapat menemukan jalan menuju Rabbnya. Ia mulai berjilbab, meski usianya sudah tidak bisa dikatakan muda lagi.

Suatu ketika anwar datang dan menertawakan penampilan barunya. Bahkan anwar dengan terang2an ia meminta najwa melepaskan jilbabnya karena menurutnya pakaian itu sangat tidak pantas untuk orang seperti najwa dengan semua masa lalunya. Tapi najwa tidak bergeming dengan permintaan anwar, karena Najwa telah menyadari bahwa Cinta sejati adalah kesucian yg harus dijaga. Cinta semestinya berhulu iman, bermuara takwa dan kebersihan jiwa. Itulah cinta yg hakiki. ia telah memahami bahwa cintanya kepada anwar selama ini adalah cinta buta. Cinta buta adalah cinta yg berdasarkan hawa nafsu belaka. Dan hawa nafsu adalah senjata setan yg paling ampuh untuk memperdaya umat manusia. Dan hal itulah yg telah meluluhlantakkan hidup najwa selama 20 tahun terakhir. Najwa pun menolak permintaan anwar karena ia lebih memilih untuk mencintai Rabb nya. Jika sikap itu telah diambilnya sejak bertahun-tahun yg lalu, maka tentulah umurnya tidak akan pernah sia-sia hanya dengan menuruti kemauan anwar yg sebagian besar melanggar aturan Rabbnya. Ia pun bertobat dengan sebenar-benarnya dan bersunguh-sungguh dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga cahaya itu agar tidak pernah mati sampai akhir hayatnya.

Perjalan spiritual seorang najwa dalam mencari Tuhannya dalam novel ini sangat menarik untuk dipelajari. Seorang wanita yg slalu hidup di bawah bayang-bayang kekasihnya. Sangat mencerminkan posisi seorang wanita yang teramat rentan dan lemah. Situasi yg pada umumnya dihadapi kebanyakan wanita. Keberanian untuk megambil sikap, ketegasan terhadap dirinya sendiri, dan kesadaran akan eksistensi dirinya dimuka bumi ini telah memerdekakan pikiran, raga dan jiwa najwa. Dengan pikiran, raga dan jiwa yg telah merdeka itulah pada akhirnya ia dapat menemukan jalan menuju Rabbnya.

Disarikan dari Novel
Judul : Minaret, Panggilan dari Menara
Penulis : Leila Aboeleila

Pesan Moral:

Haruskah menunggu 20 tahun lagi untuk sadar dan bertobat? Bagaimana jika umur kita tidak sampai 20 tahun kedepan? Bagaimana jika esok atau lusa kita harus pulang ke Rahmatullah?

Posted in Another Stories... | Leave a Comment »

TENTANG KETENANGAN

Posted by Ismadi Santoso on June 8, 2007

By : Al-Hasan bin Hani

Jangan hanya diam!
Yang terjadi biarkan saja terjadi!
Bangun dan bergeraklah!
Pergilah kau ke taman yang rupawan
Bertaburan bunga-bunga indah menawan

Nyanyikan lagu yang indah dan syair yang rampak
Iringi suaramu dengan harmoni musik yang rancak

Daripada mengurung dirumah mencipta khayal
Lebih baik kau petik gitar pengusir kesal
Keindahan bunga bakung itu seperti,
Lereng bukit landai, indah terhampar asri

Tenanglah kau!
Tegarlah kau!
Setenang pencinta berjalan tanpa kesulitan
Meski pisau cinta menyayat hatinya dan menghujam
Karena kesadarannya, akan Dia yang slalu membimbing

Posted in Core Value | Leave a Comment »

Senandung Doa…

Posted by Ismadi Santoso on June 6, 2007

Tuhan…
aku titipkan dia kepada Mu
dia, bagian dari tulang rusukku yang hilang…

dia, separuh jiwa ku
yang nama dan keberadaanya masih Kau rahasiakan dariku

Tuhan…
jika dia membutuhkan ku
Izinkan aku melakukan sesuatu untuknya…
jika hatinya tumpul…
berilah cahaya Mu ke dalam nuraninya

Tuhan…
tegarkan dia
jika dia dirundung duka
hibur dia
jika hatinya tergores luka
temani dia
jika dia butuh teman bicara

Tuhan…
jika dia merindukan aku
bisikkan padanya
bahwa aku juga merasakan hal yang sama
jika dia menantikan pertemuan denganku
katakan padanya
bahwa aku juga menantikan saat itu tiba

Tuhan…
tolong jaga dan lindungi dia untukku
hingga pada suatu hari nanti
atas izin Mu
kami bisa bertemu…

Amien

 

Posted in A Confession | Leave a Comment »

FEAR…

Posted by Ismadi Santoso on June 4, 2007

fear.jpg

 

we are if anything

creatures of habit

drawn to the safety

and comfort of the familiar

but what happens when familiar

become unsafe to us?

when the fear that we have been desperately

trying to avoid

find us where we live?


we are all at our cores

the sum of our fears

to embrace the destiny

we must inevitably

face those fears

and conquer them

wherever they come

from the familiar or the unknown

Posted in Core Value | 1 Comment »