Something to Share With…

just from a learner who still in the learning stage…

Seribu Hal, Satu Pilihan…

Posted by Ismadi Santoso on August 7, 2007

“Ketika kebutuhan hidup semakin meningkat, kebutuhan isi perut semakin mendesak, membuat seorang ibu merelakan kehormatannya demi menyambung hidup bagi ketiga anak-anaknya. Mungkin itulah satu-satunya pilihan yang dia punya.” Begitulah kurang-lebihnya pernyataan seorang pembawa acara program kriminal yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta melukiskan nasib seorang ibu yang bekerja sebagai tukang pijat plus. Entahlah, yang jelas pembawa acara itu tidak memahami arti kata pilihanMudah bagi si tidak mengerti mengatakan, ”Inilah pilihan jalan hidupku, selama aku merasa nyaman dan enjoy, it’s okay..” Tetapi, menetapkan suatu pilihan sesungguhnya sama sekali tidak menganut prinsip ”semau gue.

Pergilah ke toko buah lalu tanyakan yang mana jeruk dengan kualitas pilihan. Pergilah ke toko kain lalu tanyakan yang mana sutra dengan kualitas pilihan. Saya 100 persen yakin bahwa si pelayan toko akan menunjukan barang terbaiknya dan itulah yang paling benar. Mungkin barang itu berharga mahal. Mungkin barang impor. Mungkin barang yang dibuat dalam edisi terbatas. Mungkin juga tidak selalu mahal, tidak impor dan tidak dibuat dalam edisi terbatas. Yang jelas pilihan adalah sesuatu yang terbaik dan yang paling benar. Itulah kenyataan sesuatu yang disebut pilihan.

Jika Anda tidak puas dengan perusahaan di mana Anda bekerja sekarang, doronglah untuk berubah ke arah yang lebih baik. Kalau Anda tidak bisa, keluarlah..! Jangan menjadi virus dengan membuang-buang waktu di tempat yang membuat Anda berkeluh-kesah terus-menerus. Lagi-lagi itu satu contoh yang menjelaskan tentang pilihan.

Beberapa waktu kemaren, saya luar biasa kegirangan ketika Younes Mahmod menyarangkan gol semata wayang lewat sundulan ke gawang kesebelasan Arab Saudi pada partai puncak Piala Asia. Bukan semata-mata karena gol emas itu, terlebih kegirangan saya adalah akumulasi perasaan kagum di hati melihat semangat bertanding kesebelasan itu.

Iraq, siapa yang tidak tahu kalau negara ini tengah porak-poranda dilanda perang negara dan perang saudara berkepanjangan. Jangankan stadion berskala internasional, lapangan sepak bola pun mereka tidak punya. Dua setengah bulan mereka berlatih dengan meminjam lapangan sepak bola negeri saudaranya, Iran. Kesebelasan ini dibiayai dengan pendanaan yang sifatnya hutang. Diberangkatkan dengan uang saku yang amat sangat terbatas. Inilah tim termiskin di ajang Piala Asia tahun ini namun pada akhirnya menjadi tim terkaya karena menetapkan sebuah pilihan yang benar.

Iraq sebenarnya punya ”pilihan” untuk berhenti di perhelatan ini. Tapi, Iraq memilih untuk terus. Dia memilih untuk melihat semuanya dari sudut pandang yang benar. Pilihan itu yang membuatnya istimewa. Masuk akal sih, logikanya menghadapi gempuran ratusan ribu pasukan militer Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya saja mereka berani apalagi ”hanya” menghadapi sebelas orang pemain bola Arab Saudi. Apalagi hukum ”bola itu bulat” berlaku di setiap pertandingan sepak bola.

Anak orang kaya bisa bersekolah tinggi sampai ke luar negeri, itu biasa. Yang luar biasa, anak petani desa bisa mendapatkan bea siswa untuk bersekolah tinggi sampai ke luar negeri. Kesebelasan yang kuat dengan pemain-pemain ber-skill brilian memenangkan sebuah pertandingan, itu biasa. Yang luar biasa, kesebelasan dengan kelas pemain-pemain mediocre namun memenangkan pertandingan berkat kolektivitas dan semangat yang tinggi. Siapa pun punya keterbatasan. Keterbatasan bukan kendala, justru cambuk pemecut jiwa. Dan, semua itu berawal dari pilihan.

Di atas kertas Iraq jelas kalah cemerlang jika dibandingkan Arab Saudi yang sudah tiga kali menjuarai Piala Asia. Tapi, apalah arti perhitungan di atas kertas. Nyatanya Iraq adalah negeri yang mampu menorehkan tinta emas di atas kertas perhitungan.

Iraq negeri 1001 malam. Negeri yang sedang mengalami 1001 hal. Dari 1000 hal, hanya ada 1 pilihan. Syukurlah, Iraq ternyata pintar memahami apa itu yang disebut pilihan.

Memang, kualitas hidup kita tidak melulu bergantung kepada kemampuan kita, sesungguhnya pilihan-pilihan kitalah yang lebih menentukan kualitas kita (untuk menjadi orang yang benar atau tidak)..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: