Something to Share With…

just from a learner who still in the learning stage…

Masalah Super Berat Solusinya Jangan Ragu Ragu

Posted by Ismadi Santoso on September 6, 2007

Anda pernah mengalami masalah super berat? Sudah pasti semuanya menjawab dengan kata ”iya.” Bahkan bagi saya, jika orang tidak pernah mengalami masalah super berat berarti hidupnya tidak serius. Tidak ada yang salah dengan masalah super berat. Terima saja. Jangan dihindari. Justru, kewajiban bagi kita untuk menghadapinya agar menjadi semakin matang dan dewasa.

Suatu kemalangan pernah menimpa seorang teman semasa kuliah. Saat kami berdua berkunjung ke sebuah tempat ibadah, sepeda motornya dimaling orang. Celakanya, sepeda motor itu adalah ”kaki” satu-satunya. Walaupun sudah reot, tapi tetap setia menemani. Dasar maling yang tidak tahu selera pasar. Apa mungkin sudah betul-betul membutuhkan uang ya..? Kami lalu melaporkan kejadian itu ke Polsek terdekat sambil mencari jejak si motor sampai ke pasar loak. Hingga beberapa hari. Tetap tak ditemukan. Saya tahu di hatinya menyimpan dongkol apalagi aparat kepolisian juga tidak berhasil menemukan jejak si motor. Marahkah dia? Tidak! Bukan karena motor itu sudah reot lantas teman saya merelakannya pergi begitu saja. Tapi, semata-mata demi membebaskan hatinya dari perasaan dongkol yang sangat merusak pikiran. Sungguh baik hati teman saya itu. Bukan sumpah serapah yang keluar dari mulutnya. Justru sepenggal doa agar Tuhan memaafkan perbuatan si maling. Agar si maling lekas insyaf.

Pada sebuah kejadian yang berbeda, tanggal 29 Nopember 2004. Saya mendapatkan SMS dari seorang musuh. Orang yang paling tercela dimata saya. ”Menyimpan benci dan dendam memang tidak ada gunanya. Gua mau meminta maaf atas segala kesalahan dan kekasaran gua selama ini,” begitu katanya.
Sebenarnya tidak melulu kesalahannya. Justru saya merasa lebih banyak bersikap kasar dan menyakiti. Berkali-kali saya meminta maaf, berkali-kali juga gagal karena sikap arogan yang sama-sama kami pertontonkan. Apa lacur? Situasi makin memanas. Ada satu lagi yang paling tidak saya suka. Adalah sikapnya yang sejak dulu memberitakan hal-hal tentang saya, tapi melulu hanya menurut sudut pandangnya. Tidak benar-benar jujur tentang kejadian sebenarnya. Sehingga, teman-teman dan orang-orang di sekelilingnya memandang saya melulu dari kaca mata kuda. Menilai saya dengan seenak udelnya.

Bukan dia seorang yang pernah meminta maaf kepada saya. Tapi, bagaimana seorang yang sangat tercela di mata saya berhasil merubah paradigma berpikir ego-sentris yang selama ini saya kedepankan. Benar juga proverb masyarakat Urdu, “It is better to have a wise enemy than to have a foolish friend.”
Menyimpan perasaan benci, dongkol dan dendam apalagi mengucap sumpah serapah memang tidak ada gunanya. Alih-alih bersabar justru akan berbuah manfaat. Dengan memaafkan si maling dan mendoakan agar si maling lekas sadar, sebenarnya menghukum si maling dengan lebih berat namun dengan cara yang benar. Tuhan Maha Tahu, selalu punya rencana yang indah. Bisa jadi maling itu sudah jera. Siapa tahu dia sudah merasakan hukuman yang lebih pantas daripada dinginnya dinding penjara. Siapa tahu melalui motor reot itulah jalan untuk menyadarkannya. Siapa yang menyadarkannya? Apakah sumpah serapah dan kebencian kita? Sudah pasti bukan. Tapi doa kita yang didengar Tuhan.

Memang butuh kesabaran ekstra untuk menjadi seperti teman saya itu. Tapi percayalah, bersabar akan banyak manfaatnya. Musibah bisa terjadi di mana saja. Di mal, rumah, sekolah, pasar, bahkan di tempat ibadah. Manfaat pun bisa datang dari mana saja. Dari teman, guru, bahkan bisa datang dari maling dan musuh besar sekalipun. Dan benar saja, teman saya itu kemudian memiliki sepeda motor baru. Kehilangan sepeda motor sudah melecut semangatnya untuk bekerja paruh waktu. Bukan hanya bisa mengkredit motor yang lebih baik. Pun berkat semangatnya itu, karirnya cepat menanjak. Posisinya pun sekarang sudah lumayan mentereng di kantornya.
Jadi, bila dihadapkan pada suatu persoalan, yang paling penting bagaimana kita mensikapinya. Ada yang memilih marah-marah, ada yang memilih bunuh diri, ada yang lari jauh-jauh tak mau ambil peduli, ada yang nafsu makannya bertambah besar, sebaliknya ada juga yang tidak selera makan, hingga yang suka memikirkannya berlama-lama sampai menderita insomnia dan kehilangan berkilo-kilo gram berat badan. Tapi, saya -dan mungkin juga sebagian dari kalian- punya cara jitu untuk menghilangkan shok dan menjauhkan stress. Ya, diam. Itulah cara yang sering saya pilih jika menghadapi tekanan.

Tidak menyenangkan memang, karena saya terpaksa hanya menjadi penonton gegap gempita panggung dunia. Hanya duduk termangu dan menyaksikan pertujukan dari sudut abu-abu. Kediaman jelas tidak menyelesaikan apa-apa. Persoalan itu tetap ada. Tidak akan terselesaikan dengan sendirinya. Tapi, diam tidak melulu berarti menyerah. Diam untuk bersabar akan membuat hati dan pikiran menjadi tenang. Berpikir lebih jernih sambil mempertimbangkan persoalan dari beberapa sudut pandang. Mengumpulkan energi baru sampai akhirnya menemukan keyakinan untuk kembali berdiri. Tegap, tidak ragu-ragu lagi. Menemukan solusi di dalam kebenaran. Kemudian, menyelesaikan persoalan tanpa seorangpun akan tercederai hatinya. Akhirnya, kembali menjalani kehidupan normal sebagai warga dunia.

Musibah bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Pun jalan keluar bisa datang dengan cara yang tak disangka-sangka. Tapi percayalah, selama dunia ini masih berputar, berarti masih belum kiamat. Selama masih belum kiamat, berarti masih ada waktu tuk mencari kebenaran. Jika ada kebenaran, pasti ada jalan keluar. Kebenaran memang hakiki. Absolut, tidak bisa ditawar-tawar. Tapi, memandang suatu persoalan dari berbagai aspek dan sudut pandang jelas lebih arif dari pada memandangnya melalui kaca mata kuda.  Memang, kebahagian sering kali datang dari kemalangan. Rejeki pun sering kali datang dari kerugian. Tapi, solusi hanya akan datang dari kebenaran. Dan kebenaran hanya akan datang di dalam hati mereka yang percaya. Selalu seperti itu.

Terkadang solusi sangat sulit dicari sehingga tidak harus dicari. Terkadang suatu masalah memunculkan solusinya sendiri. Tapi, bagaimana suatu persoalan bisa memunculkan solusinya jika kita tidak mencari kebenaran. Dan, walau kebenaran sudah terpampang jelas di depan mata, tetap tidak akan terlihat jika kita tidak mau percaya. Lalu, bagaimana kita bisa percaya jika hati masih meragu. The one who hesitate will be lose.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: