Something to Share With…

just from a learner who still in the learning stage…

Archive for February, 2008

Impian

Posted by Ismadi Santoso on February 15, 2008

“Gantunglah impianmu setinggi langit!” Tapi buat apa kalau tidak berusaha meraihnya. Meraihnya adalah satu-satunya keputusan yang benar, karena membiarkannya tergantung adalah keputusan yang paling salah.

normal_super-string_theory1600.jpg

(Joanne Kathleen Rowling adalah seorang pemimpi. Ia memimpikan menjadi seorang penulis sejak menyelesaikan tulisan pertamanya padahal waktu itu umurnya baru menginjak enam tahun.

Selesai kuliah, ia menjadi penulis cerita fiksi dewasa sambil bekerja –mencari uang sekedar menyambung hidup– pada beberapa bidang. Memutuskan pindah ke Portugal saat berusia 26 tahun untuk mengajar Bahasa Inggris lalu menikahi seorang jurnalis berkebangsaan Portugis. Tahun 1993 ia melahirkan putri pertamanya. Melakukan perannya sebagai seorang ibu sambil terus menulis cerita tentang anak laki-laki yatim-piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya yang jahat. Anak itu tidak menyadari kekuatan sihir yang ia punya.

Nasib buruk, di tahun 1995 ia bercerai lalu pindah ke Edinburgh, Skotlandia. Tanpa sokongan dari seorang suami, hidupnya menjadi sangat susah bahkan tidak sanggup menghidupi putrinya yang masih kecil. Keadaan itu memaksa Rowling menemui public assistance untuk menunjang kehidupan putrinya. Dalam keadaan yang serba sangat terbatas, ia tetap menulis ditemani sang putri yang tertidur pulas di sebelahnya.)

Jamak kita mendengar penyataan seperti ini: “Setiap hal besar selalu diawali dari sebuah mimpi,” atau “jika ingin berhasil kita harus punya mimpi,” atau “jika ingin sukses, bermimpilah!”

Ada banyak sekali –jika terlalu berlebihan saya menyebut semua– orang meng-claim dirinya sebagai seorang pemimpi. Pun tidak berbeda dengan saya. Malah, saya adalah pemimpi sejati. Bedanya saya tidak pernah menyatakan bahwa: “Setiap hal besar selalu diawali dari sebuah mimpi,” atau “jika ingin berhasil kita harus punya mimpi,” atau “jika ingin sukses, bermimpilah!” Justru saya menolak anggapan itu. Setidaknya anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Mau tahu alasannya?

Mungkin bagi beberapa kalian ini hanya permainan kata-kata, tapi arti sebenarnya mengandung paradigma yang jauh berbeda. Seperti: “matahari” dengan “mata Hari”, atau ”mata air” dengan ”air mata”, atau ”Balikpapan” dengan ”balik papan.”

Jika Anda tidak punya mimpi[1], itu bukan masalah. Tapi menjadi masalah besar jika Anda tidak punya impian[2]. Mimpi dan impian adalah dua hal yang berbeda. Mimpi adalah mimpi, tetapi impian adalah mimpi dalam rencana dan target. Mimpi ibarat angan-angan, tapi impian adalah cita-cita. Mimpi itu pasif, tapi impian adalah tindakan aktif.

Saya tidak menentang anggapan, “Seorang yang besar dahulunya hanyalah seorang pemimpi.” Tapi pemimpi yang bagaimana? Tentu hanya pemimpi yang punya impianlah yang akan menjadi besar.

“Jika ingin sukses, bermimpilah!” Berarti Anda sedang bermimpi. Tapi, “Jika ingin sukses, milikilah impian!” Berarti Anda sedang berusaha.

Sebenarnya, kesuksesan tidak melulu faktor apakah Anda seorang pemimpi atau bukan, tetapi melulu faktor apakah Anda berusaha atau tidak, iya toh?

Memang, sejatinya setiap orang harus menjadi pemimpi. Jadi, teruslah menjadi pemimpi (yang punya impian)!

(Berkali-kali Rowling ditolak sejumlah penerbit di Inggris saat menawarkan manuscript Harry Potter and the Philosopher’ s Stone sampai akhirnya tahun 1998 ada penerbit yang mau menerima manuscript-nya. .J. K. Rowling belum disebut sukses ketika berhasil menulis buku, bahkan ketika bukunya diterima untuk dicetak. Ia baru disebut sukses ketika karyanya diterima masyarakat dan menghasilkan uang yang banyak.)

Selamat buat anda yg telah memiliki impian karena anda telah memahami eksistensi anda di alam raya yg sangat dinamis ini. Dan bagi anda hanya hidup dg prinsip ”Berjalan Mengikuti Arus” tanpa visi yg jelas, anda tidak akan pernah mengerti apa itu impian. Karena sejatinya anda sendiri tidak mengerti kenapa anda hidup di muka bumi ini dan untuk apa serta kemana hidup anda selayaknya di tujukan. Dan yang lebih memprihatinkan anda akan jadi super defensif (bahkan sekalipun anda melakukan kesalahan, anda akan selalu merasa benar). Akibatnya, anda menjadi tidak berani mengambil keputusan yg signifikan untuk mengubah hidup anda kearah yg jauh lebih baik lagi. Meskipun kesempatan untuk itu sangat terbuka lebar.

Berkacalah pada ”cermin hidup” yang paling jujur, yang dapat memantul kan banyangan anda semurni mungkin. Dan terimalah apapun bayangan diri anda yg dipantulkannya dengan lapang dada meskipun akan sangat sulit tentunya, 😦 apalagi bagi mereka yg sangat terbiasa hidup dengan menggunakan 1000 topeng (baca: kebohongan) dalam kesehariannya. Yakinlah, bahwa seperti itulah pencerminan diri anda yg sebenarnya suka atau pun tidak, entah itu baik atau malah busuk sekalipun. Karena cermin tidak akan pernah berdusta, cermin hanya memantulkan bayangan objek yg berada disekitarnya sebagaimana realitas keadaan objek itu sendiri. itu saja.

Nah pembaca yg budiman, apakah Impian anda? Apapun itu, semoga itu adalah impian yang dapat membuat hidup anda, hidup orang-orang disekitar anda dan lingkungan dimana anda hidup menjadi jauh lebih baik lagi. Sehingga anda akan berpulang menghadap Nya dengan penuh ketenangan dan kebahagiaan. Dan dunia yang anda tinggalakan pun akan selalu mengenang kebaikan-kebaikan anda, dan bukan malah sebaliknya. Itulah tujuan penciptaan manusia yg hakiki, beribadah hanya kepada Nya, dan menjadi khalifah dimuka bumi yang mencipta kemaslahatan kehidupan baik itu di dunia ataupun diakhirat. Impian anda adalah sarana menuju kesana. Semoga berhasil. 🙂

Advertisements

Posted in A Confession | Tagged: , , , , | 1 Comment »

Indonesia

Posted by Ismadi Santoso on February 8, 2008

garuda.jpg

Tiga puluh tahun yang lalu, saya
mendengar dari profesor saya di
ruang kelas
bahwa Indonesia merupakan negara yang
berpotensi tinggi, karena
sumber daya
alam dan manusianya begitu kaya. Tiga
puluh tahun sudah lewat, dan saya
sudah menjadi profesor. Saya masih
juga mengatakan kepada
murid-murid saya
bahwa Indonesia negara besar dan
berpotensi tinggi dengan alasan
yang sama.

Tanggal 19 Desember 2007, rakyat Korea
(Korsel) memilih presiden
baru, yaitu
Lee Myung-bak (biasa disebut MB) yang
akan memulai lima tahun masa
jabatannya pada 25 Februari mendatang.
MB berjanji bahwa dalam masa
jabatannya Korea akan lebih maju
dengan wawasan 7-4-7, yang
berisikan bahwa
7 persen pertumbuhan ekonomi per
tahun, 40.000 dollar AS pendapatan per
kapita, dan negara ke-7 terbesar dari
segi ekonominya (sekarang ke-11
terbesar). Pada hemat saya, Indonesia
juga bisa, karena negara ini punya
kemampuan.

Ciri utama yang mewarnai negara
berkembang, dan merupakan musuh
utama yang
harus kita kalahkan, ialah kebodohan
dan kemalasan yang keduanya adalah
cikal bakal yang melahirkan
kemiskinan. Karena itu, siapa yang lebih
dahulu
mampu menghilangkan dua sifat buruk
itu, maka dialah yang akan
dengan cepat
dapat meraih kemajuan dan kemakmuran
bangsanya.

Dalam teori pembangunan, sebagaimana
ditulis Steven J Rosen dalam
bukunya,
The Logic of International Relation,
dikenal dua aliran pendapat tentang
sebab-sebab keterbelakangan
negara-negara berkembang, di mana kedua
aliran
pendapat itu secara prinsip sangat
berbeda satu dengan yang lain.
Dalam hal
ini, Indonesia dan Korea memiliki
pandangan yang sama, yakni
menganut paham
tradisional; menganggap bahwa proses
pertumbuhan ekonomi dan
pembangunan di
sebagian besar negara terhambat akibat
rendahnya tingkat
produktivitas yang
berhubungan erat dengan tingginya
kemubaziran dan ketidakefisiensian
sosial.
Aliran ini berpendapat bahwa
keterbelakangan dan kemiskinan mutlak
disebabkan faktor-faktor internal.
Istilah Jawa-nya karena salahe dewe.

Adapun aliran yang lain, ialah aliran
radikal, memandang kemiskinan dan
keterbelakangan suatu negara (terutama
negara ketiga) disebabkan oleh
kondisi internasional, yakni adanya
eksploitasi negara-negara maju
terhadap
negara-negara berkembang. Namun, dalam
hal ini saya beranggapan
bahwa teori
ini cenderung selalu mencari kambing
hitam. Pepatah Melayu-nya,
karena awak
tak bisa menari, lantai pula yang
disalahkan.

*Etos Korea*

Kita semua tahu bahwa Korea dalam
kurun waktu relatif singkat telah
menjelma
menjadi masyarakat modern, yaitu
masyarakat yang telah mampu
melepaskan diri
dari ketergantungan pada kehidupan
agraris.

Kemajuan Korea ini telah membuat
banyak orang berdecak, terpukau seperti
melihat keajaiban sebuah mukjizat.
Para pakar bertanya-tanya, resep apa
gerangan yang telah membuat bangsa
yang terubah menjadi negara dan
bangsa
yang makmur? Sejak awal tahun 1970-an
pihak Pemerintah Korea dalam
rangka
semangat pembangunan nasional telah
berusaha membentuk tipe manusia
Korea
yang memiliki empat kualitas. Pertama,
“sikap rajin bekerja”. Lebih
menghargai bekerja secara tuntas
betapa pun kecilnya pekerjaan itu,
tinimbang pidato yang muluk-muluk
tetapi tiada pelaksanaannya.

Kedua, “sikap hemat”, yang tumbuh
sebagai buah dari sikap rajin bekerja
tadi. Ketiga, “sikap self-help”, yang
didefinisikan sebagai berusaha
mengenali diri sendiri dengan
perspektif yang lebih baik, lebih
jujur, dan
lebih tepat; berusaha mengembangkan
sifat mandiri dan rasa percaya diri.
Keempat, kooperasi atau kerja sama,
cara untuk mencapai tujuan secara
efektif dan rasional, dan
mempersatukan individu serta masyarakatnya.

Inilah picu laras yang memacu jiwa
kerja bangsa Korea. Bila kita
perhatikan,
keempat butir nilai itu sesungguhnya
adalah nilai luhur bangsa
Indonesia.
“Rajin pangkal pandai…” dan “sedikit
bicara banyak kerja” adalah
pepatah
yang telah mengakar dalam budaya
Indonesia.

Adapun nilai self-help, mandiri, sudah
lama melekat dalam nilai religi
sebagian besar masyarakat Indonesia,
karena Tuhan Yang Maha Esa dalam Al
Quran menyebutkan bahwa sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah nasib
sesuatu
bangsa, kecuali bangsa itu mengubah
nasibnya sendiri. Sedangkan
setiap usaha
mengubah nasib, baik itu membuahkan
hasil ataupun tidak, Islam telah
memberinya nilai tambah; digolongkan
pada perbuatan ibadah.
Sementara sifat
yang terakhir, kooperasi, adalah
sendi-sendi budaya Indonesia yang amat
menonjol. Kooperasi atau gotong royong
tetap dipelihara dan
dilestarikan.

*Burung garuda*

garuda-afrika.jpg

Sebagai penutup, saya ingin sedikit
mendongeng tentang seekor anak
burung
garuda yang tertangkap dan dipelihara
oleh seorang pemburu. Dari hari ke
hari dia hanya bermain di halaman
rumah; bersama-sama ayam kampung. Lalu
pada suatu hari lewatlah seorang ahli
unggas. Sang zoologist itu
terkejut.

“Ah!” pikir sang ahli unggas itu
terheran-heran. “Sungguh mengherankan
burung garuda itu!” ujarnya kepada
pemburu.

“Dia bukan burung garuda lagi. Nenek
moyangnya mungkin garuda,
tetapi dia
kini tidak lebih dari ayam-ayam
sayur!” balas sang pemburu mantap.

“Tidak! Menurutku dia burung garuda,
dan memang burung garuda!”
bantah si
ahli unggas itu.

Burung garuda ditangkap, lalu
diapungkan ke atas udara. Garuda mengepak,
lalu terjatuh.

“Betul, kan?” ujar si pemburu. “Dia
bukan garuda lagi!”

Kembali si ahli unggas itu menangkap
garuda, dan mengapungkannya lagi.
Kembali garuda mengepak, lalu turun
kembali. Si pemburu kembali
mencemooh
dan semakin yakin garuda telah berubah
menjadi ayam.

Dengan penuh penasaran si ahli unggas
memegang burung itu, lalu dengan
lembut membelai punggungnya, seraya
dengan tegas membisikkan:
“Garuda, dalam
tubuhmu mengalir darah garuda yang
perkasa. Kepakkanlah sayapmu,
terbanglah
membubung tinggi, lihatlah alam raya
yang luas yang amat indah.
Terbanglah!
Membubunglah! ” Burung dilepas, dia
mengepak. Semula tampak kaku,
kemudian
tambah mantap, akhirnya garuda melesat
membubung tinggi, karena dia
memang
garuda.

Nah, barangkali cerita ini ada
persamaannya dengan bangsa Indonesia.
Bukti
kejayaan masa lampau telah membuat
mata dunia takjub. Borobudur satu
bukti
karya perkasa. Kini camkanlah bahwa
Anda sekalian mampu, Anda punya
kemampuan. Korea saja bisa, apalagi
Indonesia.

Written By: Koh Young Hun

Profesor di Program
Studi Melayu-Indonesia,

Hankuk University of Foreign Studies

Seoul, Korea

Posted in Another Stories... | Tagged: , , , , | 18 Comments »