Something to Share With…

just from a learner who still in the learning stage…

Supremasi Hukum Ala Rasulullah

Posted by Ismadi Santoso on May 29, 2008

Rasulullah SAW selalu memaafkan setiap orang yang menyakiti dirinya. Akan tetapi, ia tidak pernah memaafkan orang-orang yang melanggar undang-undang (hukum Allah). Ia tidak pernah menoleransi siapa pun yang melakukan hal itu. Hal itu dikarenakan hukum Allah yang adil dan bijaksana adalah penjamin keamanan dam kemaslahatan kehidupan bermasyarakat dan penegak berdirinya sebuah masyarakat yang madani.

Pada peristiwa pembebasan kota Makkah, salah seorang wanita dari kabilah Bani Makhzum mencuri dan pencurian yang dilakukannya sudah terbukti. Dengan ini harus dijalankan hukum atas dirinya. Keluarganya yang masih terjangkiti cara berpikir fanatisme kabilah menganggap bahwa dijalankannya hukum atas wanita itu adalah aib besar bagi kabilahnya. Dengan ini mereka sepakat untuk mencegah hukum itu dijalankan. Rasulullah SAW dengan lantang berkata: “Kaum-kaum sebelum kalian binasa karena mereka pilih kasih dalam menjalankan hukum. Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, dalam menjalankan keadilan aku tidak akan pernah mundur selangkah pun meskipun pelaku kriminalitas itu adalah keluarga dekatku sendiri”. Bahkan dalam sebuah hadits shahih beliau bersabda ”seandai nya Fatimah binti Muhammad mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya.”

Begitulah, Beliau tidak pernah mengistimewakan dirinya sendiri dan tidak menganggap dirinya kebal hukum, pun demikian dengan seluruh anggota keluarganya. Pelanggaran hukum Allah adalah sebuah kesalahan dan tidak bisa benarkan untuk alasan apapun dan untuk siapapun.

Suatu hari ia pergi ke masjid. Di sela-sela pesan yang disampaikan di mimbar ia bersabda: “Allah bersumpah bahwa pada hari pembalasan Ia tidak akan memaafkan orang yang pernah berbuat zalim. Jika aku pernah menzalimi salah seorang dari kalian, aku siap untuk menerima qishash”. Seorang sahabat yang bernama Sawadah bin Qais berdiri seraya berkata: “Wahai Rasulullah, pada suatu hari saat anda pulang dari Tha`if, ketika anda menggerakkan tongkat, tongkat itu mengenai perutku dan perutku merasa sakit karenanya”.

“Tidak mungkin aku melakukan itu dengan sengaja. Meskipun demikian, aku siap untuk diqishash”, lanjutnya. Lalu ia memerintahkan salah seorang sahabat untuk mengambil tongkat tersebut. Kemudian ia menyerahkan tongkat tersebut kepada Sawadah seraya berkata: “Engkau bisa memukul perutku seperti tongkatku dulu menyentuh perutmu dan ambillah hakmu di dunia ini”.

Sahabat itu akhirnya berkata: “Tidak, aku telah memaafkan anda”.

“Semoga Allah memaafkanmu”, Rasulullah SAW menimpali.

Begitulah perlakuan seorang pemimpin agama dan pemerintahan dalam rangka menegakkan keadilan sosial dan supremasi hukum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: