Something to Share With…

just from a learner who still in the learning stage…

Ngantri di Pagi Buta

Posted by Ismadi Santoso on June 6, 2008

Setelah fajar menyingsing di subuh hari itu, aku menunaikan kewajiban ku dan lantas turun ke lantai bawah untuk mandi. Itu sekitar jam 5.00 AM. Kepagian? Memang harus begitu, mengingat ibu kos lagi ngerombak kamar mandi lantai atas. Dan dikarenakan sang tukang salah perhitungan, maka pipa bak penampung air di loteng pun jadi korban yang ikut dihabisinya. Walhasil meluncurlah air dari bak penampungan yg keluar dengan sia-sia. Sebagai hasil dari kesalahan yang (menurutku sangat fatal) itu hanya tersisa 1 kamar mandi yang ”available” untuk 9 anak kos yg kudu ngantor pagi2 semua. Dan itulah alasan satu-satunya kenapa aku mandi sepagi itu.

Bener aja, sampe di bawah kamar mandinya udah ”occupied”, ku tengok kedinding jam menunjukkan pukul 05.05 AM. Well, sepagi itu pun aku udh harus ngantri? Apa mau dikata, akupun lantas duduk di kursi tamu dan menyalakan TV. Kupandangi kesekeliling ku, suasana di lantai bawah sangat hening, hampir tak ada tanda2 kehidupan sama sekali, kecuali hanya ada suara gemericik air dari kamar mandi.

Sepuluh menit kemudian, kreeekkk…. pintu kamar mandi terbuka, dan mas hery lah ternyata yang sukses mendahului ku. Kulihat jam menunjukkan pukul 05.15 AM.

Apa ada yg pengen sholat subuh ya (pikirku)? Karena ragu, aku pun menunggu kalau2 ada yang bangun dan pengen wudhu. Selang 5 menit berlalu (jam 05.20 AM) aku memutuskan untuk mulai mandi dengan ber”husnuzhan” bahwa temen2 di lantai bawah udh pada solat trus tidur lg, karena hari itu waktu subuh jatuh pada pukul 04.45 AM. Udh basi pikirku.

Sepuluh menit kemudian (jam 05.30) aku keluar dari kamar mandi dan tiba2 ada yang nyeletuk ”wah masih jauh dibawah target ternyata, harusnya sampe jam 6 kan!”. Astagfirullah, apa ”bapak” itu menyindirku? Ya rasanya sangat jelas begitu, aku cuma tersenyum dan dalam hati berkata (kemana aja pak?). Heran saya? Kalau emang niat subuhan bukannya sedari td harusnya dia udh bangun ya? Bahkan aku sudah sempet memberi selang waktu untuk menunggu kalo2 ada yg mo solat, dan ternyata emang gk ada kan? Masih pada molor smuanya! Dan diruang tamu itu, setelah aku keluar kamar mandi cuma dia sendiri yang nyerocos gk enak, yg laen hanya diem aja karena memang telah kusapukan pandangan ku keseluruh penjuru ruang tamu sambil tersenyum begitu ada celetukan itu, dan begitulah faktanya.

Hmmfff… bukannya aku mengeluh, tapi rasanya hal itu gk perlu ditanggapi dengan cara begitu kan? Waktu dia masih molor pun aku sempet menunggu mas hery yang bahkan lbh lama dari dia nunggu aku, toh aku gk protes. Apalagi itu adalah pertemuan pertamaku dengan nya setelah 2 minggu dia pergi entah kemana? Bukankah masih banyak cara yg lebih baik kan kalo pengen ngeluarin unek-uneknya? Aku cuman menyabarkan diriku sendiri sambil ngelus-ngelus dada terus mengulang-ngulang Sabda Rasullulah : ”Sabar itu adalah sebagian dari iman dan perumpamaannya seperti bagian kepala dari anggota tubuh”. Sambil terus kubayangkan apa jadinya kalo tubuhku ini harus berjalan tanpa kepalaku? Mengingat diriku yang menurut temen2 ku adalah tipe Kolerik yg ”galak”? Maka itu ku coba untuk terus menahan diri, bersabar dan berdoa semoga besok dia bisa bangun paling pagi kalo emang dia gk pengen nunggu.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: