Something to Share With…

just from a learner who still in the learning stage…

BALIKPAPAN, IMPIAN YANG SEMPURNA

Posted by Ismadi Santoso on October 12, 2008

Minggu ke dua awal tahun 2006, sebuah kesempatan meniti masa depan mendatangi ku, di saat aku sedang memasuki babak akhir proses perjalanan menggapai sebuah cita-cita. Bimbang memilih antara sebuah idealisme (baca: impian) dan realitas yang terhampar sangat jelas didepan mata. Akhirnya, dengan berat hati saat itu aku memilih mengejar Impian dan meninggalkan Realitas. Tetapi kemudian Sang Ilahi berkehendak lain. Impian rupanya bukan ditakdirkan untukku sementara di sisi lain Sang Realitas telah meninggal kan ku jauh di belakang.

Ditengah kebingungan ku itu itu seorang teman datang padaku dan mengatakan “Ada suatu saat dalam hidup kita dimana sebuah idealisme harus dipertemukan dengan realita Madi”. Ya, dia memang benar. Itulah jawaban yang selama ini kucari. Manusia hidup selayaknya memiliki impian atau tujuan, tetapi tujuan atau pun impian itu harus sesuai dengan realita yang ada. Dengan berat hati aku mengurungkan niat ku untuk kembali ke Balikpapan yang sebelumnya menjadi harga mati ku. Sedih memang tapi itulah kenyataan yang harus kuhadapi.

Beberapa bulan kemudian aku mengambil langkah sebuah langkah ekstrim. Bukan saja untuk menerima kota Jakarta menjadi tempat tinggalku, tetapi juga menerima sebuah pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah aku impikan. Sejak pertama kali meninggalkan kota Balikpapan, aku tidak pernah punya keinginginan untuk menetap di Jakarta. Saat itu bagiku Jakarta adalah penjajah dari daerah-daerah kecil seperti Balikpapan dan lainnya. Sebagian besar devisa yang dihasilkan oleh kota “selicin minyak” itu dipindah tangankan ke Jakarta. Hanya kurang dari 5% yang di kembalikan ke daerah. Dan hasilnya sangat jelas terasa pembangunan di DKI JKT luar biadap pesatnya, sementara dikota ku hampir tidak ada pembangunan sama sekali. Bahkan disaat aku lulus SMA ditahun 1999 tak ada satu kampus pun yang layak untuk dijadikan tumpuan meniti jalan menuju masa depan. Inilah yang selalu kukatakan dengan sebuah ironi riil yang menimpa sebuah daerah yang justru memberikan devisa terbanyak bagi NKRI. Hal itulah yang memaksa aku dan teman2 ku yang ingin melanjutkan kuliah untuk pergi jauh ke pulau jawa untuk memperoleh pendidikan lanjutan yang lebih layak. Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Semarang, Bogor, dan Jakarta menjadi kota2 favorit. Sejak saat itu aku sangat membenci Jakarta dan manusia2 penghuni pemerintahan pusat. Buat ku mereka sama saja dengan belanda ataupun jepang yang hanya menguras SDA di daerah2 terpencil dan memanfaatkan hasilnya hanya untuk kemaslahatan segelintir orang dan melupakan begitu saja daerah dimana mereka mendapatkan itu semua beserta orang-orang yang tinggal disana. Jadi, jangan pernah menyalahkan arus urbanisasi yang tidak pernah padam ke DKI JKT yang membuat jakarta makin padat dan makin carut marut. Selama pembangungan yang sentralistik dari Jaman “Purba” itu masih diterapkan hingga saat ini, maka hal itu tak akan pernah berubah. Jangan heran kalau suatu saat Jakarta akan menjadi Megapolitan jauh lebih cepat daripada seharusnya, yang artinya mempercepat Jakarta menuju pada kematian.

Dan saat ini, aku termasuk satu dari sekian juta anak manusia yang harus “mengadu nasib” di ibukota. Sungguh, perjalanan hidup yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Segala hal yang sebelumnya hanya bisa kudengar dan kubaca, kini terpampang jelas di hadapanku. Bahkan efek negatif dari arus westernisasi global yang sangat aku takutkan malah terjadi pada seseorang yang sangat dekat dengan ku. Sangat memprihatinkan memang, tetapi inilah JAKARTA, kota dimana sebagian besar orang menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan pribadi atau kelompoknya dan sebagian yang lain tidak mau peduli akan kesusahan orang lain. Bukan bermaksud berkeluh kesah ataupun tidak bersnyukur. Sama sekali tidak. Aku hanya ingin menegaskan bahwa nun jauh di dalam lubuk hatiku, aku masih memelihara impian untuk kembali ke tanah impian ku suatu saat nanti, bila pintu itu sudah terbuka untukku. Dan aku tak kan pernah lelah untuk berusaha mencapainya. Itu saja.

Situasi semakin memojokkan ku saat semua orang menuding ke arah ku. Kenapa nggak kerja di Balikpapan aja mas? Di sini (Balikpapan) kan juga banyak perusahaan-perusahaan atau kantor-kantor yang bagus. Yah, seperti itulah memang yang terjadi waktu liburan lebaran kemaren. Aku yakin bahwa maksud mereka yang bertanya itu pada dasarnya baik, untuk bersimpati kepada ibuku yang tinggal sendiri sementara ini di rumah Balikpapan karena adik bungsu ku masih berusaha menyelesaikan studinya di Samarinda. Tapi rasanya sangat menohok sekali, atau mungkinkah aku saja yang kelewat sensitif ya? Tapi apapun itu, percayalah kawan, meskipun aku hidup di Jakarta saat ini, tidak ada tempat yang dapat menggantikan Balikpapan di dalam hatiku. Dan aku masih percaya bahwa suatu hari nanti aku akan kembali. Waallahu’alam bis sawaab.

Anugerah yang Engkau berikan
Pada kami Kota Balikpapan
Terbentang Indah dan menawan
Antara hutan bukit dan lautan

Rasa syukur kami panjatkan
UntukMu Tuhan Yang Maha Esa
Membangun kota tercinta
Bersih indah aman dan nyaman

Balikpapan Balikpapan
Ku Bangun Kujaga Kubela
Balikpapan Balikpapan
Terima Kasih Tuhan Tercinta

Temans, masih ingatkah kalian dengan lagu diatas? Ya, itulah lagu yang sering kita nyanyikan waktu SMA dulu, Hymne Balikpapan. Terutama di saat-saat menjelang akhir kelulusan. Saat kita bersama-sama merajut impian, meniti jalan menuju masa depan. Saat-saat dimana kita harus mengambil resiko untuk meninggalkan Balikpapan tercinta hanya beberapa hari setelah kita selesai mengikuti EBTANAS tanpa mempedulikan bagaimana hasil EBTANAS itu nantinya. Mengingat tujuan kita adalah mengikuti UMPTN yang sangat mustahil di selenggarakan di kota kita. Untuk itu kita harus mempersiapkan diri dengan mengikuti Bimbel yang sangat sulit didapatkan di Balikpapan saat itu. Kemudian kita pernah berjanji setelah kita lulus kuliah nanti, kita akan kembali ke Balikpapan dan membangun kota kita tercinta. Maafkan aku karena sampai saat ini aku masih “nyangkut” di sini. Kelak pada saatnya nanti, aku akan kembali. Dan bersama-sama kita wujudkan asa yang masih belum sempat terlaksana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: