Something to Share With…

just from a learner who still in the learning stage…

The Resigner Desk

Posted by Ismadi Santoso on October 28, 2008

Beberapa waktu kemaren, temen-temen sempat rame banget membicarakan tentang hal ini di fb. Sebenarnya, akupun sudah lama ingin menulis tentang ini, tetapi selalu saja nggak sempet :p, mungkin sekaranglah saatnya. Resigner Desk adalah sebuah bangku panjang di ruang TornadoN Plasa Kuningan, kantor ku yang dulu. Hanya sebuah bangku biasa memang, namun begitu banyak “history” yang terukir disana sejak kehadiranya untuk yang pertama kali di tempat itu. TornadoN Room adalah ruangan yang sangat sakral di gedung itu. Di ruangan itulah desain dan planning radio network (siemens) pertama kali di lakukan. Pada zaman dahulu kala, tidak semua orang boleh seenaknya keluar masuk. Hanya Radio Planner (RNP) dan orang-orang yang memiliki otoritas yang dapat mengakses ruangan itu. Namun, hal tersebut tidaklah berlangsung lama. Beberapa bulan kemudian, sejarah mencatat bahwa kedatangan sekitar belasan radio planner baru ke Siemens HCPT project mengubah segalanya.

Dikarenakan minimnya fasilitas tempat duduk yang ada di Plas_Kun HCPT Project Planning & Engineering Department, belasan Radio Planner baru yang masih dalam fase “training” itu terpaksa luntang-lantung nggak jelas posisinya. Dan tentu saja aku adalah salah seorang diantaranya. Entah aku harus bersyukur atau malah bersedih karenanya😛. Saat itu “base camp” kami adalah ruangan training di lantai 7. Namun, diasaat seluruh ruangan training dipakai kita terpaksa migrasi ke lantai 9 mengisi beberapa bangku kosong yang ditinggalkan tuannya dengan berbagai macam alasan. Dan sisanya, memenuhi lobby lantai 9 dengan mengambil area di sekitaran lift, dan sisanya ini pun masih berjumlah belasan. Yups, kita semua duduk lesehan sembari menanti instruksi selanjutnya dari “atas”. Di saat petugas cleaning services hendak melakukan tugasnya, kita terpaksa menyingkir (atau tersingkir) untuk kesekian kalinya. Akhirnya instruksi dari “atas” itu datang juga. Dengan alasan merusak pemandangan, mengganggu ketertiban umun, menghindari kegaduhan, dan segudang alasan lainnya, kami diminta untuk tidak lagi berdiam disekitar lift lantai 9, dan diluar jam makan, kami harus berada di ruang kantin lantai 9. Dan kami pun hanya bisa pasrah mengikutinya. Sejak saat itu kantin lantai 9 resmi menjadi “base camp” kami.

Tidak lama berselang boss ki2t selaku salah orang “pembesar” di departemen kami mengeluarkan kebijakan sensasional dengan memutuskan untuk menambah meja baru ke dalam ruang tornado guna memfasilitasi belasan radio planner baru, yang selama ini nongkrong di kantin yang konon katanya cuman pada “nge-game” mulu tiap hari. Dibumbui dengan beberapa alasan bijak lainnya yang tak kalah serunya tentunya, seperti menerjunkan secara langsung anak-anak baru itu ke dunia yang sesungguhnya, meningkatkan team work dengan para seniornya, memudahkan pendelegasian tugas-tugas dan tentu saja hands on dengan Tornado selaku tools utama seorang radio planner. Hal itu tentu saja merubah suasana ruang tornado menjadi lebih padat dan lebih ribut dari sebelumnya dengan kehadiran anak-anak baru yang terlihat sangat ceria. Dan yang Sejak saat itu nasib kami berubah, secara tidak langsung hal itu adalah pertanda penerimaan lingkungan kerja terhadap kami the new comers. Meja baru di tengah-tengah Ruang Tornado itulah yang di kemudian hari dikenal dengan “the resigner desk”. Sejak saat itu, cerita demi cerita terukir diatasnya hingga saat ini. Kehadiran meja tersebut ditambah dengan anak-anak baru yang terlalu sulit untuk diatur :p, perlahan namun pasti megikis kesakralan Ruang Tornado hingga akhirnya ruang tornado menjadi bener-bener tidak sakral sama sekali. Setiap orang bebas keluar-masuk Tornado, bukan hanya RNP saja, TNP, FNP, Core, bahkan Sitac sekalipun.

Makanan dan mimuman pun hampir tiap hari bertebaran di atas meja tengah itu. Minimal gelas-gelas susu, dan roti-roti pinot, plus menu sarapan pagi lainnya selalu menghiasi meja Tornado di pagi hari. Pesta gorengan yang di selalu koordinir Pak RT (baca: Dyan kurban) pun acap kali dilakukan di meja tengah itu yang udah berang tentu menyedot banyak sekali animo para penghuni lantai 9. Bukan hanya yang pada iuran saja, yang enggak pun tentu saja boleh ikutan, asal “PD” masuk ke Tornado😀. Suatu waktu esti pernah berkata: “Mad, kaya nya nggak ada yang seberani kita-kita ya, ngebuat “kerusuhan” kaya gini di Tornado yang dulunya terkenal sakral?”. Aku pun menjawab santai “Kalau sudah menyangkut urusan perut, siapa pun enggak akan dapat merintangi, apalagi kalo gretongan :D”. Buktinya para pembesar-pembesar itu pun pada turun gunung mengikuti dan menikmati pagelaran “pesta rakyat” dibawah asuhan Pak RT, huahahahaaaaaa😀.

Suatu hari di akhir April 2007, sebagian engineer kembali dari masa “pembuangan” mereka dengan alasan yang berbeda. Sebagian karena training something di TC, ada yang sekedar cuti dan ada yang dengan tegas mengatakan sudah bosan di daerah dan dingin menunggu detik-detik terakhir kontrak kerja dengan D** di Jakarta untuk melihat dengan mata dan kepalanya sendiri tentang perubahan-perubahan yang sangat mungkin terjadi. Teguh ke Jakarta dengan tujuan training, Robby dan Lintom menghabiskan sisa cutinya di Jakarta, dan Mifdhal yang sangat terang-terangan menyatakan kebosanannya tinggal di area. Ditambah dengan Ai, seorang laki-laki yang dinilai banyak orang sangat beruntung karena hanya kebagian Roll-Out di sekitaran Jabodetabek. Sementara dirku, sempat kerja “Rodhi” dua bulan di Balikpapan, sebelum akhirnya HCPT mem-“Freeze” project Kalimantan dan Sulawesi dan membuatku sedikit lbh beruntung dari pada teman2 ku (di daerah pembuangan lainnya) untuk kembali ke JKT lebih awal. Kemudian terbentuklah formasi empat sekawan di meja tengah tanpa disadari. Dan mereka adalah Robby, Mifdhal, Ai, plus Tetty tentunya dan terkadang vira tnp juga sering ikutan nimbrung ke meja tengah kalo lagi bete ama “*****” yang kerap kali mengganggunya itu. Awalnya kami tidak mengambil pusing tentang keberadaan mereka di meja tengah itu, namun diakhir mei 2007 hal itu terungkap semua. Ternyata mereka semua telah merencanakan suatu gerakan bawah tanah untuk angkat kaki dari D** dengan berbagai tujuan yang berbeda.

Disaat tawaran perpanjangan kontrak di ajukan, mifdhal dan robby dengen entengnya menolaknya. “Sangat tidak fair”, kata mereka. Dan aku pun mengambil keputusan untuk memboikotnya, meskipun sejujurnya ku sendiri tidak tahu pasti tentang masa depanku, segalanya tampak suram bagiku saai itu. Namun diluar dugaanku, semua teman-teman RNP mengambil keputusan yang sama dengan ku, dan ketika bertemu dengan teman-teman TNP merekapun mengambil sikap yang senada. Meskipun sejujurnya, tidak sedikit pun terbesit niat dari dalam hati ku untuk memprovokasi mereka, tetapi itu semua terjadi secara alami dan tanpa paksaan. God job guys kataku. Dengan personel sejumlah ini kita akan punya kekuatan yang cukup untuk sekedar memberikan “shock terapy” kepada para pembesar-pembesar yang terlalu lama tertidur lelap itu. Setelah sepakat tidak menandatangani berita acara perpancangan kontrak itu, sekitar 30 orang engineer itu pun bersepakat untuk melanjutkan aksi dengan “mogok kerja” bersama, bagiku itu adalah hari yang baik sekaligus hari yang buruk. Hari yang buruk karena hal ini adalah bukti nyata bahwa mereka (para pembesar) tidak menghargai dedikasi kami selama setahun kebelakang untuk perusahaan ini, yang telah suka rela dibuang ke area tanpa SPJ atau sekedar relocation allowance seperti yang pernah mereka janjikan. Hari yang baik karena hari itu kami semua mencapai kesepakatan untuk melakukan aksi damai bersama. Setelah keluar dari SBP, sebagian teman-teman ada yang ke jalan-jalan Mal, pulang ke kosan, dan kami para RNP memutuskan untuk makan siang di salah satu rumah makan di kawasan tebet untuk menghilangkan kepenatan sambil membicarakan langkah selanjutnya yang perlu dilakukan. Kami pun bersepakat selama tidak ada perubahan klausul kontrak kami untuk setahun kedepan, kami tidak akan bekerja meskipun kami masuk kantor di hari itu. Dengan kata lain kami tetap mogok kerja dan cuma setor muka ke kantor.

Kehebohan pun terjadi selepas itu semua. Semua berjalan diluar kendali manajemen. Tindakan berani yang dilakukan segelintir anak muda itu dalam waktu sekejap menjadi buah bibir komunitas siemens-D**. Para pembesar pun sibuk meeting untuk menentukan sikap guna mengembalikan harga diri serta harkat dan martabat mereka yang terinjak-injak. Mifdhal dan Robby akhirnya melayangkan surat pengunduran diri secara resmi untuk pindah ke dua operator telekomunikasi berbeda. Sementara Ai, Tetty dan Vira sibuk kasak-kusuk untuk mempersiapkan proses pengunduran diri mereka. Sisanya yang masih belum memiliki masa depan hanya bisa pasrah dan terus berjuang semampunya. Beberapa hari kemudian undangan meeting pun dilayangkan pihak manajemen kepada para pemboikot. Di hari yang di tetapkan setiap orang bersiap dengan segala pemikiran dan argumentasinya masing-masing. Dan yang sangat menghebohkan saat itu, Seorang manajer besar yang selama ini konon bertanggung jawab tentang masalah human resource, yang selama ini memimpin kami semua, dan yang telah menyiapkan klausul kontrak kerja untuk kami itu datang dengan membawa tameng (baca: dekengan). Ternyata dia gentar untuk maju sendirian ke medan laga meskipun dialah orang yang paling berkuasa di sana saat itu dan yang paling bertanggung jawab atas segala kekacauan yang terjadi. Bahkan untuk sekedar membuka rapat pun ia tak berani, dan rapat itu dibuka oleh dekengannya itu yang merupakan salah satu manajer dari dunia yang berbeda. Situasi yang sangat memprihatinkan ku dimana seorang yang selama ini semena-mena dalam mengeluarkan kebijakan terhadap kami ternyata adalah hanya seorang “pengecut”. Dalam rapat itu suara lantang dari kami para pemboikot sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Agam yang memulai menyerang dengan garang namun elegan, ditambah dengan dukungan yang sangat kompak dari bintang dan uncle dave membuat suasana menjadi sangat panas saat itu. Aku pun tidak ingin kalah dengan ikutan menyerang manusia satu itu berdasarkan kebijakannya yang omong kosong belaka. Sementara diluar dugaan ku, Esti pun ikut-ikutan ambil bagian dalam acara gugat menggugat itu, pun demikian hal nya dengan lusi, mas bay dan latipe. Hal yang sangat mengagetkan ku mengingat mereka selama ini terlihat adem ayem aja. Sementara risuky kun, angga, yuli, bung boy, dan beberapa temen lainnya memilih untuk tetap tenang guna mengurangi tensi diruangan itu. Bisa ditebak bahwa rapat itu padakhirnya tidak menghasilkan apa-apa selain menambah buruk citra manajemen dihadapan kami dan rakyat jelata yang lainnya dikarenakan kepercayaan yang kian hari kian menipis.

Akhir juni 2007, Ai dan Vira akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya secara resmi untuk bergabung dengan salah satu operator telekomuikasi terkemuka di negeri ini. Sementara Tetty ternyata lebih memiih untuk mengabdikan hidupnya kepada bangsa dan negara dengan menjadi PNS di salah satu instansi pemerintahan. Dengan demikian kosonglah meja tengah di Tornado itu. Sejak saat itu lah kami menamainya dengan resigner desk, karena semua orang yang duduk disana berhasil resign dengan suksesnya. Dan kemudian aku menjadi salah seorang yang paling terobsesi untuk mengambil tempat di meja itu untuk satu tujuan yang sama, Resign dengan kepala tegak. Formasi disana pun selalu berubah-ubah sejak saat itu. Namun tentu saja aku selalu menjadi salah seorang pelanggan tetap meja itu.

Tender HCPT kembali mengubah formasi meja tengah itu. Namun, lagi-lagi aku yang ditakdirkan untuk mengisi salah satunya sebagai anggota tim tender. Sejak saat itu (agustus 2008) formasi resigner desk menjadi nyaris baku dengan dihuni oleh diriku, helena, fatur, dan latipe. Tidak jarang Mas Bay dan Bagoes ikut-ikutan nimbrung untuk berbagi cerita tentang lowongan kerja atau kemungkinan-kemungkinan untuk angkat kaki dari sana, atau pun untuk sekedar meramaikan suasana yang terlalu tegang karena dikejar-kejar “you know who”. Formasi resigner desk relatif tetap sejak saat itu. Hal itu tentu saja dikarenakan tender yang memakan waktu berbulan-bulan disamping alasan sudah “PW” sehingga malas untuk pindah-pindah lagi. Hingga akhirnya beberapa bulan kemudian, sejarah kembali mencatat bahwa fatur, aku, mas bay, bagoes dan helen berhasil lulus dari sana dengan kepala tegak meskipun harus melewati pertarungan yang sangat sengit dan mendebarkan (khususnya untukku dan fatur). Dan nama resigner desk pun menjadi semakin lekat di bangku itu. Entah bagaimana saat ini, masih kah meja itu berada disana, ditempatnya semula? Akupun tak tahu. Yang jelas bagiku, cerita ini adalah sebuah pengalaman yang dapat membuatku tersenyum sekaligus bersedih bila mengingatnya.

6 Responses to “The Resigner Desk”

  1. triindi said

    Jika boleh berkomentar,
    Sebetulnya saya tidak ada hubungan dengan anda atau siapapun didalam photo tersebut.
    Tetapi photo di atas mengingatkan saya akan teman-teman kantor terdahulu..
    Yang sekarang mustahil akan terulang lagi..
    Memang beda situasi dan kondisi tetapi..makna & suasana hampir sama..
    Jika anda masih bisa merasakan hal seperti itu..nikmati dan manfaatkanlah..dan jangan lupa bersyukur..

    Terus terang saya sedih..
    Photo-photo kebersamaan..keceriaan..gokil abis..de el el …dan bla bla bla..
    sekarang sudah tak ada lagi..

    (kabuurr)

  2. Terimakasih karena sudah nyempetin mampir (mas tau mbak ya?) :p
    hmm, sebenernya dua photo di postingan diatas itu “mengabadikan” meja yang jadi topik pembicaraan.
    kalo mas/mbak juga alumni DGE/Siemens apalagi aliran Plas_Kun mungkin familiar dg situasinya dan suasananya.

    Thanks.

  3. ..estee.. said

    Huhuhu, hari-hari itu.. FYI, meja itu sekarang ditempati oleh aku, (terkadang Hery – new comer sepeninggalan kalian), risuki, en latipe..
    Dan sekarang, ruangan tornadoN juga jadi tempat sampah besar, menampung kayu-kayu yang dipaketkan dari region.. *perusahaan telekomunikasi ato perusahaan kayu siy?
    Oiya, secara bulan Desember kita mo pindahan kantor ke MM, ayo donk para resigner maen-maen ke TornadoN lagih, poto-poto kita!
    Btw, ko kita mau ya disuruh sama Mas Lawi pose pake hape S*EM*NS jelek gitu?😀

  4. ga heran lah Ti, secara udh mo pindah ke MM, jd aja R TornadoN di tambah “fungsionalitas”nya😀.
    Wah, TornadoN room kita bener-bener jadi tinggal kenangan dong ntar nya ya?
    Ke Plas Kun lg? msh kah kami diterima disana ti? :p
    btw, di photo itu aku pake hp Nokia loh bukan S**m**s, kekekekekekekekeee….

  5. rzrd said

    kok ga dijelasin kenapa disebut resigner desk🙂
    sodara-sodara, itu karena hampir semua orang yang pernah duduk dan menggunakan meja tengah itu akhirrnya satu-persatu resign untuk mencari karir yang lebih baik.
    saya juga salah seorang yang pernah make meja itu, dan.. sekarang..
    lulus euy🙂

    • terimakasih buat penjelasannya bung risuky.
      dan selamat bergabung di dunia kami😀.

      Pada akhirnya… Resigner Desk itu bener-bener tinggal kenangan… hiks… hiks….
      temans…! kapan kita bisa ngumpul bareng lg?😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: