Something to Share With…

just from a learner who still in the learning stage…

Archive for the ‘Core Value’ Category

MENGEMIS KASIH

Posted by Ismadi Santoso on December 6, 2009

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Tahoma; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-520082689 -1073717157 41 0 66047 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Tuhan dulu pernah
Aku menaruh simpati
Kepada manusia
Yang alpha jua buta

Lalu terseretlah
Aku di lorong gelisah
Luka hati yang berdarah
Kini jadi kian parah


Semalam sudah sampai
Ke penghujungnya
Kisah beribu duka
Kuharap sudah berlalu
Tak ingin lagi ku ulangi kembali
Derap dosa yg mengiris hati

Tuhan dosaku menggunung tinggi
Tapi rahmat Mu melangit luas
Harga selautan syukurku
Hanyalah setitik nikmatMu di bumi
Tuhan.. walau taubat sering kumungkir
Namun pengampunanMu..
Tak pernah berhenti
Bila selangkah ku datang padaMu
Seribu langkah Kau datang padaku

Tuhan dulu pernah
Aku menaruh simpati
Kepada manusia
Yang alpha jua buta

Lalu terseretlah
Aku di lorong gelisah
Luka hati yang berdarah
Kini jadi kian parah


Semalam sudah sampai
Ke penghujungnya
Kisah beribu duka
Kuharap sudah berlalu
Tak ingin lagi ku ulangi kembali
Derap dosa yg mengiris hati

Tuhan dosaku menggunung tinggi
Tapi rahmat Mu melangit luas
Harga selautan syukurku
Hanyalah setitik nikmatMu di bumi
Tuhan.. walo tobat sering kumungkir
Namun pengampunanMu..
Tak pernah berhenti
Bila selangkah ku datang padaMu
Seribu langkah Kau datang padaku

Posted in A Confession, Core Value | Leave a Comment »

Rabbnya Mengecil…?

Posted by Ismadi Santoso on September 23, 2008

Hidup adalah pembanding saja, jadi kalau salah membandingkan, kebahagiaan kita akan hilang. Contoh sederhana adalah Amri sangat tinggi kalau dibandingkan dengan anak yang usia dua tahun. Tapi kalau Amri dibandingkan dengan orang yang lebih tinggi, maka Amri akan menjadi pendek. Begitu juga kulit Amri, akan terlihat putih kalau dibandingkan dengan beberapa temen dari negara tertentu, namun suatu ketika rapat dengan beberapa negara tertentu yang kulitnya sangat putih, maka saat itu Amri terlihat sangat hitam. Bahkan ketika foto bersama setelah rapat itu, dari semua peserta rapat, Amri paling hitam. Pada waktu itu, posisi fotonya ditengah, jadi Amri terlihat seperti tembok pemisah antara blok kanan dan blok kiri. Begitu juga kehidupan, terutama yang berkaitan dengan ketenangan hati dalam menghadapi hidup, sangat tergantung pada bagaimana kita membandingkan. Kalau salah membandingkan, maka siap-siap saja kita akan tidak pernah bahagia. Kemudian timbul pertanyaan, Apakah yang dapat menyebabkan kita akan selalu merasakan ketentraman hati?. Jawabnya sangat sederhana, yaitu: ”Rabb kita tidak boleh mengecil”. Maksudnya adalah, meletakkan Rabb dalam hati keimanan kita menjadi Rabb Maha Besar. Ketika hal itu dapat kita lakukan maka apun permasalahan kehidupan. kita akan menjadi sangat lapang.

Ketika kami kedatangan tamu, kebetulan beliau penghasilannya sangat banyak dan berlimpah, sebab semua fasilitas keluarganya tercukupi oleh perusahaan, maka beliau bisa tersenyum dengan lebar, berjalannya sangat gagah, berbicaranya penuh optimistis dan lain sebagainya. Kemudian dua tahun berikutnya, perusahaan tempat dia bekerja bangkrut, sehingga temen saya ini gajinya harus dikurangi sangat drastis dan bahkan mau dirumahkan, maka saat itu beliau juga sering kerumah dengan wajah terlihat 10 tahun lebih tua dari usia sebenarnya. Sejak saat itu, beliau tidak pernah bahagia, tidak pernah optimis, wajah ketakutan seperti dikejar perampok. Ini terjadi karena Rabbnya mengecil. Secara tidak disadari, dirinya teracuni oleh bisikan kehidupan ”kalau penghasilan mengecil, dirinya akan kesulitan menghadapi hidup”.Padahal, gaji tidak sama dengan rizki.

Read the rest of this entry »

Posted in Core Value | Tagged: , | Leave a Comment »

Pit Stop

Posted by Ismadi Santoso on March 5, 2008

by Jamil Azzaini

Sekali-kali simaklah pertunjukkan balap mobil Formula Satu di televisi. Semua pembalap ber-lomba meme-nangkan pertandingan, memacu mobilnya dengan kencang. Ternyata, hal terpenting dalam strategi untuk memenangkan perlombaan adalah Pit-Stop (berhenti sejenak). Tak seorang pembalap, betapapun kencang-nya mereka melaju, bisa memenangi lomba tanpa mengambil sekali Pit-Stop.

pit_stop.jpg

Dalam Pit-Stop, para pembalap melakukan penyegaran, menerima arahan, melakukan perbaik-an mesin, mengisi tangki bensin, mengganti ban, dan berangkat lagi dalam keadaan segar dan semangat baru. Lomba Formula Satu adalah soal adu kecepatan dan strategi. Dan kemenangan sering ditentukan oleh soal penen-tuan waktu serta manajemen Pit-Stop itu.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, Pit-Stop dapat mewujud dalam berbagai bentuk. Mengikuti pelatihan atau pencerahan. Membaca buku yang mencerahkan. Shalat lima waktu bagi yang beragama islam. Berdoa de-ngan penuh sungguh-sungguh. Istirahat makan siang. Melakukan obrolan dengan sahabat. Bercengkerama dengan anak dan istri. Pit-Stop membantu kita dalam meraih kehidupan yang utuh.

Banyak orang yang kelihatannya terlalu sibuk. Mereka bekerja begitu keras untuk meraih kesuksesan hidup. Namun yang terjadi, banyak diantara mereka bagai kelelawar yang terbang di siang hari. Begitu banyak si-nar matahari namun justeru sang kelalawar tak mampu melihat.

Mereka yang terlalu sibuk tak mampu melihat kehebatan dan polah tingkah lucu buah hatinya. Mereka tak tahu betapa dalam cinta dan perhatian pendamping hidupnya kepada mereka. Mereka tak menyadari begitu banyak inspirasi kehidupan baru yang berada di sekitarnya. Bahkan terkadang mereka tak menyadari dan tak tahu siapa dirinya. Mereka begitu sibuk, namun justeru tak mampu memahami apa makna hidup yang se-sungguhnya.
Bila kita terlalu sibuk, kita akan lupa untuk menikmati hidup. Kita banyak melakukan kegiatan namun kita lupa apa yang kita lakukan dan untuk apa kita melakukannya. Kita hanya melakukannya, tapi tanpa hati. Kita hanya melakukannya, tapi tanpa visi. Kita hanya melakukannya, tapi tanpa jiwa. Walau kita sibuk namun hidup kita kering dan gersang.

Saatnya kita melakukan Pit-Stop. Renungkanlah untuk apa kita hidup? Mau kemana setelah kehidupan? Sudah berapa lama anda menikah? Dan hal terbaik apa yang pernah anda berikan kepada pasangan hidup anda? Andai satu bulan anda selalu mempersembahkan satu hal yang terbaik buat pasangan hidup anda, saya yakin sang pendamping akan semakin menyayangi anda.

Read the rest of this entry »

Posted in Core Value | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Sebuah Inner Journey dengan Al-Ihsan

Posted by Ismadi Santoso on July 27, 2007

esq-diagram.jpg

Berdasarkan bagan diatas terlihat bahwa EQ, IQ, dan SQ berkaitan erat satu sama lainnya. Pada saat masalah datang, maka radar hati akan menangkap sinyal. Jika langkah yang kita ambil berorientasi pada Spriritual, maka niscaya Tauhid mampu menstabilkan tekanan pada amygdala (sistem saraf emosi), sehingga emosi selalu terkendali. Pada saat inilah seseorang dikatakan memiliki EQ tinggi. Emosi yang tenang terkendali akan menghasilkan optimalisasi pada fungsi kerja God Spot pada lobus temporal serta mengeluarkan suara hati Ilahiah yang murni dari dalam bilik peristirahatannya. Suara Hati Ilahiah itulah bisikan informasi Maha Penting yang mampu menghasilkan keputusan yang sesuai dengan hukum Allah, hukum alam, sesuai dengan situasi yang ada, dan sesuai dengan garis orbit spiritualitas. Pada momentum inilah, seseorang dikatakan memiliki kecerdasan spiritual (SQ) yang tinggi. Kemudian dilanjutkan dengan mengambil langkah kongkret lainnya berupa perhitungan logis (IQ), sehingga intelektualitas bekerja pada garis edar (Manzilah) yang mengorbit pada Allah Yang Esa (SQ). Inilah yang dinamakan meta kecerdasan (Ultimate Intelligence) itu yang pada akhirnya dapat membawa kita pada keselamatan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.

Dan Hendaklah diantara kamu ada segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.(QS Al-Imran 3:104)

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah 9:71)

Sebaliknya, jika setiap langkah kita berorientasi pada nafsu maka emosi yang dihasilkan adalah emosi yang tidak terkendali sehingga menghasilkan sikap Marah, Sedih, Kesal, Takut, kalut, Linglung, Bingung, Kosong, Hati Tumpul, dll. Akibat dari emosi yang tidak terkendali adalah GOD Spot menjadi terbelenggu dan Suara Hati tidak memiliki peluang untuk muncul. Bila bisikan Suara Hati Ilahiah yang bersifat mulia tidak lagi bisa di dengar maka ia tidak dapat berkolaborasi dengan piranti kecerdasan yang lain. Pada saat ini emosilah yang memberikan perintah kepada logika kita (IQ) untuk bertindak berdasarkan dorongan kemarahan, kekecewaan, kesedihan, ketumpulan hati, kekalutan, dan ketakutan. Bayangkanlah apa yang terjadi kemudian! Logika yang sudah tidak dapat bekerja secara normal ditambah tertutupnya suara hati akan membuat siapa saja dapat berbuat apa saja untuk tujuan apapun juga, meskipun harus menantang Tuhannya. Hal-hal yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi benar, yang haram akan menjadi halal dan yang halal akan menjadi haram. Menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan akan menjadi sesuatu yang rasional dalam kondisi ini. Pada akhirnya kebinasaanlah yang akan diperoleh baik didunia maupun diakhirat. Penyesalan, tangisan, dan air mata pada saat itu akan sia-sia. Naudzubillah min dzalik tsumma naudzubillah min dzalik.

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagiannya dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. (QS. AT-Taubah 9:67)

Tidakkah kau ketahui telah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah binasa (musnah)?[649]. Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali mendzalimi (menganiaya) mereka, akan tetapi merekalah yang mendzalimi (menganiaya) diri mereka sendiri. (QS. AT-Taubah 9:70)

Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat”. (QS. Saba’ 34:50)

[649] ‘Aad adalah kaum Nabi Hud, Tsamud ialah kaum Nabi Shaleh; penduduk Madyan ialah kaum Nabi Syu’aib, dan penduduk negeri yang telah musnah adalah kaum Nabi Luth a.s. kesemuanya binasa dikarenakan ulah mereka sendiri.

Waallahua’lam bis sawaab

Disarikan dari:
Judul Buku: ESQ Power, Sebuah Inner Journey Melalui AL-IHSAN
Penulis: Ary Ginanjar Agustian

Posted in Core Value | 8 Comments »

Tentang Sekeping HATI

Posted by Ismadi Santoso on July 23, 2007

Hati adalah bagian terpenting dalam diri manusia selepas keberadaan ruh yang menjadi inti dasar dari segala-galanya. Tasawwuf yang berkembang dengan pesatnya di kebanyakan negara-negara Islam, menjadikan hati sebagai fokus pengkajian dan pusat pembahasan untuk mencapai kedamaian dan kebahagiaan yang diridhoi Allah. Tasawwuf juga dikenal sebagai ilmul Quluub (ilmu tentang hati dan penyakit- penyakitnya, atau Fiqhul Quluub ( pemahaman yang komprehensif tentang hati dan penyakitnya). Kesehatan dan kebersihan hati adalah suatu hal yang sangat signifikan dalam Islam, sehingga kualitas hidup, Ibadah dan perjuangan seseorang dapat ditentukan melalui tahap kesucian dan kebersihan hatinya. Hal ini mendapat dukungan dan pembenaran dari Nabi Muhammad SAW di dalam sabdanya;
Sesungguhnya pada jasad ( tubuh manusia ) ada segumpal darah, apabila ia baik maka baiklah seluruh anggota jasad, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh anggota jasad, sesungguhnya ia adalah hati ( HR. Bukhari )

Baiknya hati adalah faktor penentu (decisive factor) kepada baiknya seluruh anggota badan. Anggota badan yang baik adalah anggota badan yang dapat berfungsi secara positif untuk tujuan-tujuan Ibadah demi mencapai Ridho Allah. Sesungguhnya, mata yang baik dapat melihat dengan jelas kebenaran dan kesalahan diri sendiri, mulut yang baik selalu dihiasi dengan zikir kepada Allah dan kata-kata hikmah.

Tangan yang baik akan sentiasa berusaha mengambil apa-apa yang baik dan memberi yang terbaik sebagaimana lebah yang Allah contohkan di dalam Alqur’an. Lebah mengambil sari dari bunga tanpa perlu merusak bunga, kemudian mengeluarkan madu yang segar untuk menjadi obat kepada manusia. Kedatangan lebah tidak sedikitpun membawa kerusakan kepada bunga, bahkan ia membawa kebaikan yang sangat besar kepada proses perkawinan tumbuh-tumbuhan. Sebagai seorang Mukmin kita harus berusaha membawa kebaikan kepada sesama Muslim sebatas kemampuan yang ada, agar wujud dan keberadaan kita menjadi sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu dan diharapkan. Apabila hati kita sakit maka seluruh anggota badan kita akan berfungsi secara negatif dan destruktif (destructive), yang pada akhirnya membawa kepada kehancuran diri dan reputasi sebagai seorang Mukmin yang menjadi pewaris kepada perjuangan dakwah Nabi.

Semua pekerti buruk yang keluar dari hati yang rusak dan sakit akan menjadikan hati semakin sakit dan tertutup dari cahaya kebenaran, serta jauh dari keikhlasan. Kemudian hati akan berubah menjadi gudang dosa yang penuh dengan timbunan dosa dan noda sehingga hati semakin kecil dimakan oleh racun dosa sebagaimana besi dimakan oleh karat-karat yang berada di sekelilingnya. Allah berfirman;

Sesungguhnya di dalam hati mereka ada bermacam-macam penyakit kemudian Allah tambahkan lagi penyakit itu sehingga hati mereka benar-benar gelap dan sakit, dan sesungguhnya Allah menyediakan untuk mereka azab yang pedih atas sebab pendustaan yang mereka lakukan ( Al Baqarah :10 )

Penyakit hati sangat berbahaya namun ia jarang mendapat perhatian yang sesungguhnya dari kita, karena tidak mengetahui akan besarnya akibat yang akan timbul jika kita mengabaikannya. Kita biasanya lebih peka kepada tuntutan jasmani dan penyakit-penyakit yang diderita oleh jasmani kita. Bermacam-macam buku kesehatan kita koleksi dan kita baca, berbagai macam pakar kesehatan kita datangi namun kita lupa akan penyakit yang ada pada hati. Apakah namanya? Siapakah dokternya, mana bukunya dan apakah obatnya.

Sesungguhnya penyakit hati sangat banyak macam dan bentuknya seperti; cinta dunia yang berlebih-lebihan, Iri hati, dengki, sombong, angkuh, dendam, khianat, bohong dll. Semua penyakit ini, tidak ubahnya bagaikan penyakit kanker ganas yang semakin hari semakin membesar sehingga dapat merubah bentuk dan rupa manusia menjadi hewan yang liar dan ganas atau melebihi keganasan dan kebuasan hewan. Allah berfirman;

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) sebagian besar dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (nasehat yang baik). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (Sesat). ( Al A’raf :179 )

Kebersihan hati sangat diperlukan dan merupakan modal dasar dalam mengharungi kehidupan dunia yang penuh dengan ujian dan cobaan. kebaikan dan keburukan adalah gendang dari sebuah kehidupan yang nyata, dan menjadi materi utama dalam ujian kehidupan kita di dunia. Kebaikan dan keburukan bisa muncul dari diri kita ataupun dari diri orang lain. Bila kebaikan muncul dari diri kita ia hendaklah merupakan ibadah kepada Allah dan bukanlah sebuah demonstrasi kebaikan untuk mendapat pujian dan sanjungan dari manusia, dan bila kebaikan itu muncul dari orang lain ia harus dilihat sebagai sebuah kebenaran dan kebaikan yang harus kita contoh dan teladani. Apabila keburukan muncul dari diri kita ia adalah manifestasi dari proses penurunan iman dan kelemahan jiwa kita yang tentunya menuntut perbaikan segera. Apabila keburukan itu muncul dari orang lain ia adalah suatu peringatan dan teguran yang bermakna untuk kita, dan bukanlah sarana untuk kita saling berdendam dan saling mencerca. Sebuah keburukan tidak dapat diselesaikan dengan keburukan sebagaimana dendam tidak dapat menyelesaikan persengketaan.

Sumber : www.percikan-iman.com

Posted in Core Value | Leave a Comment »

Takdir

Posted by Ismadi Santoso on July 19, 2007

Apakah takdir itu? adakah peran manusia dalam takdir itu? lantas bagaimana kita sebagai muslim menyikapi takdir itu?

Dalam hal takdir sebenarnya ada campur tangan manusia, sebanyak 2/3 bagian, sementara kehendak Allah adalah 1/3 bagian dari keseluruhan rangkaian takdir. Apa maksudnya? Seringkali saya dengar ayat Al-quran yang mengatakan : “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubahnya”. Sebenarnya taqdir baik atau tidak, nasib baik atau tidak, sebagian besar tergantung pada manusia. Ada 3 tahapan yang harus dilalui sebelum jatuhnya taqdir manusia, yaitu :

  1. Qauli
  2. Syar’i
  3. Ghaibi

Contoh paling gampang adalah ketika kita melalui suatu ujian. entah itu ujian di sekolah, ujian kehidupan, ujian untuk memasuki suatu perguruan tinggi maupun ujian apapun. Gimana caranya kita dapat bernasib baik atau bertaqdir baik adalah melalui proses diatas. Pertama Qauli. Qauli disini artinya mengusahakan untuk mendapatkan nilai yang baik dengan mempersiapkan segala sesuatu alias belajar dengan baik. Jika kita tidak belajar dengan baik maka jangan salahkan takdir kalau nilai kita jelek.

Jika kita sudah mempersiapkan diri dengan baik langkah berikutnya adalah melaksanakan Syar’i. Arti dari syar’i ini adalah bahwa kita tidak boleh meninggalkan ibadah wajib yang telah diwajibkan oleh Allah SWT dan jangan lupa untuk berdoa agar kita diberikan kemudahan dalam melaksanakan ujian dan diberikan hasil yang terbaik. Jika kita tidak melakukan tahap kedua ini dengan benar dan mendapatkan takdir yang jelek maka jangan salahkan takdir.

Tahap ketiga, Ghaibi adalah keyakinan bahwa apapun yang terjadi adalah kehendak Allah SWT. artinya ketika kita telah melaksanakan tahapan pertama dan kedua dengan baik, namun mendapatkan hasil yang tidak baik atau gagal maka itu adalah kehendak Allah, mungkin Allah telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk kita. Artinya semisal dalam mempersiapkan ujian SPMB kita telah belajar dengan baik, mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, berdoa, tidak meninggalkan ibadah wajib bahkan mungkin disertai dengan ibadah2 sunah seperti tahajud namun ternyata gagal alias tidak ketrima maka itu sudah kehendak Allah. Yang pasti Allah akan memberikan sesuatu yang terbaik bagi hambaNya yang bertawaqal. Setiap kehidupan kita, bagaimana kita mendapatkan rejeki itu juga melalui 3 rangkaian tahapan tersebut. apapun yang terjadi pada diri kita maka 3 rangkaian itu berpengaruh. Termasuk dalam mencari jodoh, mengarungi kehidupan sehari-hari dan sebagainya.

Ada hikmah yang dapat saya ambil dari taujih ini, bahwa kita harus berusaha sebaik-baiknya. Dalam sebuah hadist Qudsi dikatakan bahwa “Allah menyukai seorang pemberi makan kuda karena ia melaksanakan pekerjaannya dengan baik / bersungguh-sungguh”. Artinya meskipun manusia menganggap pekerjaan itu suatu pekerjaan yang sepele jika kita bisa mengerjakannya dengan baik maka Allah akan menyukainya dan akan memberikan rizki yang halal dan berkah. Bekerja secara profesional sebenarnya telah diajaarkan oleh islam. Pasti sering kita mendengar Hadits ini “Jika hari ini sama dengan hari kemaren maka kita merugi, jika hari ini lebih jelek dari hari kemaren maka celakalah kita” Bisa dibayangkan jika semua umat islam menyadari hal ini dan dapat melaksanakan setiap pekerjaan yang dibebankan padanya dengan baik maka bisa dilihat dalam waktu singkat umat islam akan maju. Mari berinstropeksi, sudahkah kita melaksanakan setiap pekerjaan dengan baik?

ilustrasi berikut mungkin dapat membantu:

takdir.jpg

Kuadran kiri dimana kita (manusia) gk punya andil adalah QADA’. sedangkan Kuadran sebelahnya (kanan) dimana kita (manusia) mempunyai andil adalah TAKDIR. pada hakekatnya hanya ada 2 macam takdir itu; yaitu takdir baik dan takdir buruk. Takdir baik dapat kita peroleh jika kita berikhtiar sesuai dengan perintah ALLAH dan Rasul Nya serta meninggalkan larangannya. Takdir buruk akan berlaku jika kita berusaha dengan mengabaikan perintan ALLAH dan Rasul Nya serta melanggar larangannya.

Jadi jangan salahkan takdir yang buruk yang menimpa kita ketika kita tidak berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan yang terbaik dengan jalan yang terbaik (jalan yang di ridhoi oleh ALLAH dan Rasul Nya).

Waallahu’alam bis Sawaab

Posted in Core Value | Leave a Comment »

” Kisah Seorang Pendo’a “

Posted by Ismadi Santoso on July 17, 2007

iklas_jpg.jpg

Ketika kumohon pada Tuhan kekuatan,
Tuhan memberiku kesulitan agar aku
menjadi kuat…

Ketika kumohon pada Tuhan
kebijaksanaan, Tuhan memberiku
masalah untuk kupecahkan…

Ketika kumohon pada Tuhan
kesejahteraan, Tuhan memberiku akal
untuk berpikir…

Ketika kumohon pada Tuhan keberanian,
Tuhan memberiku kondisi bahaya untuk
kuatasi…

Ketika kumohon pada Tuhan sebuah
cinta, Tuhan memberiku orang2 yang
bermasalah untuk kutolong…

Ketika kumohon pada Tuhan bantuan,
Tuhan memeberiku kesempatan untuk
terus berusaha…

Aku tak pernah menerima yang aku
pinta, tapi aku menerima segala yang
kubutuhkan…

Terima Kasih Tuhan, Do’aku terjawab
sudah…

terjemah bebas : “History of Prayer”

Posted in Core Value | Leave a Comment »

Survive or Perish

Posted by Ismadi Santoso on July 4, 2007

Evolution in an imperfect and often violent process
Morality loses its meaning
The question of good and evil
reduce to one simple choice:
SURVIVE or PERISH

Posted in Core Value | Leave a Comment »

RUN

Posted by Ismadi Santoso on July 4, 2007

the earth is large
large enough that you think
you can hide from anything

from fate
from GOD

if only you found a place
far enough away
so you run
to the edge of the earth
where all is safe again
quite and warm

the solace of salt air
the peace of danger left behind
the luxury of grief
and may be just for a moment
you believe you have escaped

you can run far
you can take your small precautions
but have you really gotten away?
can you ever escape?

or is the truth that you do not have
the strengt or cunning
to hide from destiny?

but the world is not small
you are
and fate can find you anywhere
and fate can find you anytime

Posted in Core Value | Leave a Comment »

Survive

Posted by Ismadi Santoso on June 27, 2007

to survive in this world
we hold close on whom we depend
we trust him in our hopes, our fears.
but what happen when trust is lost?

where do we run
when things we believe in
vanish before our eyes?
when all seems lost?

the future unknowable
our very existence in peril…
all we can do is going back…
to The Owner of our breathe
to The Owner of our life

Posted in Core Value | Leave a Comment »