Something to Share With…

just from a learner who still in the learning stage…

FENOMENA

Posted by Ismadi Santoso on December 4, 2008

fenomena_up1

Posted in A Confession | Leave a Comment »

TANJUNG BENOA ADVENTURE (Part 2)

Posted by Ismadi Santoso on November 26, 2008

Di minggu siang itu yang memutuskan untuk mengikuti petualangan bawah air adalah Risuky, Beto, Gustav dan Aku. Kami pun di guide oleh pihak penyelengara ke ruang ganti untuk fitting pakaian selam, selaput katak, dan google. Malang nian nasibku, karena selaput katak yang seukuran kakiku sudah tidak ada (baca: habis), hanya tersisa ukuran yang besar. Sang guide menjanjikan ku kalau di boat sudah ada sepasang selaput katak ukuran kecil untukku. Setelah kami berganti kostum sang instruktur yang bertubuh tidak kalah gempal dari gustav datang menghampiri kami. Dan mengajak kami ke boat yang telah disiapkan

dive_img_05191Namun sebelum itu, kami tetap melakukan kebiasaan kami, prosesi narsis ria. Yups semua temen-temen yang tidak ikut diving pun pada semangat pengen foto bareng kami karena kami menggunakan kostum yang unik hari itu. Dan kami pun meminta bantuan salah seorang kru operator untuk mengambil beberapa gambar kami semua. Selesai sesi pemotretan, kami berempat plus boy yang selama ini paling banci foto, ternyata rela berbaik hati untuk mengiringi petualangan kami guna mengabadikan momen-momen langka yang akan terjadi. Teman-teman kali ini kita harus angkat topi buat sahabat kita “Alberto Boy Dopo Siahaan” :D. Kami pun berjalan mengikuti instruktur diving ke boat yang akan membawa kami ke diving spot. Sejujurnya selama perjalanan itu aku merasa sangat tegang. Kalau ada alat pengukur detak jantung, mungkin saat itu jantungku berdetak dua kali lebih sampai tiga kali cepat dari biasanya. Bahkan aku nyaris tidak mempedulikan boy yang sedang sibuk mengambil gambar kami. Bagaimana tidak tegang, aku yang hanya berpengalaman 2 jam snorkeling di Pulau Semak Daun Kepulauan Seribu dan beberapa jam water sport sehari sebelumnya harus berkenalan dengan laut jauh lebih dekat lagi. Untuk ukuran orang sepertiku yang tidak jago (kalau tidak boleh dikatakan tidak bisa) berenang harus memberanikan diri terjun kedasar lalut saat itu juga adalah hal yang sangat ekstrim dalam primbon hidupku. Nervous yang kurasakan kian memuncak ketika boat yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti. Dan kemudian sang nakoda melemparkankan jangkar nya ke dasar laut, pertanda kami telah sampai ke tempat tujuan.

Ditengah laut itu kami terombang ambing oleh ombak yang terasa cukup besar mengingat perahu yang kami tumpangi hanya berkapasitas enam orang. Bukan itu saja, kalau sang instruktur berjalan diatas perahu maka keseimbangan perahu pun menjadi sangat terganggu yang membuat kami semua semakin panik menyeimbangkan perahu dengan memerintahkan gustav untuk bergerak kearah yang berlawanan dengan sang instruktur, sementara sang instruktur hanya cengengas-cengenges melihat ulah aneh kami. Setelah membajak selaput katak dari seorang temannya yang sedang snorkeling ia memberikan hasil palakannya itu padaku, karena aku memang belum kebagian selaput katak di darat tadi. Sesaat kupaling kan wajah ku kearah pantai, tampak sangat jauh sekali jarak kami ke pantai yang akhirnya menambah ketengangan ku kian menjadi. Kemudian ia memulai briefing. Ia menjelaskan tentang tata cara penggunaan diving tools dengan seksama dari google, masker oksigen, selaput katak, lengkap beserta bahasa iyarat yang lazim di gunakan di dunia bawah laut. Pada sesi tanya jawab beto mengambil inisiatif untuk bertanya pertama kali. Beto:”mas kalo google kita berembun gimana solusinya, apa di copot aja?”. “hahahahaha….Goblok lo” sergah si instruktur, “kalo di bawah sono lu lepas google lo kemasukan airlah hidung dan mata lu lah, payah lu”. “Gerrrr….” Kami semua serentak tertawa mendengar jawaban konyol si instruktur. Hal yang sangat positif untuk mengurangi ketenganganku. Kemudian giliran risuky yang bertanya, Risuky:”mas kalo badan kita yang ketutupan baju selam basah gk ya kira-kira?”. “Ini lagi” jawab si instruktur. “kalo gk mau basah ya gau usah nyelam aja mas sekalian.” Wuakakakakakakka :D, kami pun terbahak-bahak menyaksikan percakapan mereka. Tampak sekali kalau si instruktur orangnya selengehan. Sejenak kusadari kalau ketegangan diperahu itu tampaknya bukan milikku seorang :p. “tapi mas”, si Risuky masih terlihat penasaran. “kalo gitu fungsi baju selam yang kita pake ini apa donk?” tanyanya. “Ya untuk menjaga temperatur badan kita agar tidak terlalu dingin karena secara langsung bersentuhan dengan air laut. Ok?” jawab instruktur itu.

Kemudian ia berteriak sambil menunjuk kearah gustav “delapan…!”, kearah risuky “lima!”, dan bersamaan menunjuk kearah ku dan beto sambil berteriak “empat !”. Aku tetep nggak ngeh dengan kelakuan instruktur itu barusan, sementara yang lainynya pun saling pandang tak mengerti. Baiklah kita tunggu saja apa yang akan terjadi, pikirku. Kemudian nakoda tadi membawa semacam sabuk baja berukuran besar dan melilitkan dengan sangat kokoh ke pinggang si gustav. Olala akhirnya kami mengerti ternyata angka2 barusan adalah pemberat yang dibutuhkan untuk masing2 postur kita. Gustav tentu saja mendapat ukuran besarrr, sementara risuky mendapat sabuk ukuran sedang, aku dan beto mendapat yang ukuran mini 🙂. Sesaat sebelum turun instruktur menjelaskan kepada kami tentang dive_imgp1416btrik untuk menghadapi tingginya tekanan air pada telinga kita. Dengan cara, kita bisa menghembuskan nafas dari hidung sambil menutup dan menekan hidung kita keras2 dan merasakan tekanan udara yang keluar melalui telinga kita untuk melawan tekanan air. Sambil memperaktekkannya instruktur itu memerintahkan kami untuk memegang hidung kami masing-masing. Herannya, salah seorang dari kami bukannya memegang hidung tetapi malah memegang kuping. Aku jadi bertanya-tanya bagaimana ceritanya dia bisa lulus tk ya? :D. Setelah itu instuktur memerintah kan kami satu-persatu terjun keair setelah lebih dulu menggunakan selaput katak dan google. Trus kemana tabung dan masker oksigennya? (Tanya ku dlm hati). Karena masih sangat ragu aku mempersilakan beto untuk mendahuluiku mengambil kesempatan pertama sambil mengamati secara rinci setiap detik waktu yang berlalu. Beto pun turun, byurrrr…. Dan dibawah sana ada penyelam yang menyambutnya dan memakaikan tabung oksigen ke bahu beto. Ohhh jadi begitu caranya, guman ku. Ketika semuanya sudah menjadi jelas bagiku, dan segalanya tampak aman, aku pun tanpa ragu terjun keair dan sang penyelam itu pun melakukan hal yang sama pada ku dan kemudian memintaku untuk tetap berpegangan dan beradaptasi dengan masker oksigen di mulutku.

Read the rest of this entry »

Posted in Another Stories... | Tagged: , , , | Leave a Comment »

TANJUNG BENOA ADVENTURE…

Posted by Ismadi Santoso on November 24, 2008

Minggu 2 November 2008 adalah hari kedua kami berlibur di Bali. Berpetualang di Tanjung benoa adalah jadwal kami di pagi harinya, setelah sehari sebelumnya kami telah puas ber Bounty Cruise ria di perairan sekitar Pulau Nusa Lembongan. Tanjung benoa adalah nama sebuah pelabuhan di selatan pulau dewata. Ditempat itulah berbagai macam water sport diselenggarakan. Mulai dari Banana Boat, Jet Sky, Kano, Flying Fish, Parasailing sampai snorkeling dan Diving pun ada juga. Menarik sekali bukan? Kali ini kegiatan yang akan kami ikuti adalah Parasailing dan Diving. Mungkin ada sebagian pembaca yang bertanya, mengapa cuman dua itu saja?:p. Yups tentu saja karena water sport yang lainnya telah kami ikuti di Nusa Lembongan sehari sebelumnya. Dan yang dua ini emang sengaja kami lewatkan untuk dieksekusi di minggu pagi.

prs-img_0600Pagi sekitar jam 9.30 kami berangkat menuju tanjung benoa dari penginapan kami di Jalan Poppies II Pantai Kuta. Perjalanan menuju kesana memakan waktu sekitar setengah jam. Tepat jam 10 kami tiba di tujuan. Setelah melakukan tawar menawar harga yang cukup alot dengan pihak operator akhirnya kami mendapatkan harga RP. 80 ribu per orang untuk parasailing dan Rp. 250 ribu per orang untuk scuba diving plus 250 ribu lagi kalo mau pake kamera kedap air. Kemahalan nggak sih? Anyway kami setuju aja dengan penawaran harga yang terakhir. Dan kami pun segera menuju ke pantai untuk bersiap-siap beraksi. Waktu menunjukkan pukul 10.30 pagi, namun sang surya diatas sana sudah tampak sangat garang. Walhasil boy pun mengeluarkan koleksi seperangkat tools andalannya yaitu sun block beberapa versi (untuk badan dan muka katanya). Dengan senang hati, kami semua membantu boy untuk menghabisi sun block nya (thanks ya boy) :).

The lucky number one untuk take off adalah Hilda, secara dia pengen dokumentasi melayangnya tubuhnya diudara paling buanyakkk. Maka aku, risuky dan beto pun harus rela berada diurutan belakang guna mengabadikan momen-momen bersejarah itu. Kemudian diikuti esti, sari, boy sendiri, dan risuky. Kurasakan matahari semakin garang mennyinari bumi yang kupijak ini. Pasir tempatku berpijak serasa sedang dipanggang, maklum karena untuk mengikuti water sport haram hukumnya memakai sandal. Maka kuikuti cara operator-operator itu dengan mengali pasir bagian luar dan berpijak di pasir bagian dalamnya. Rasanya lumanyan adem untuk beberapa saat. Sesaat setelah risuky mendarat si gustav memulai aksinya. Pada saat itu, banyak yang meragukan kalau parasut itu cukup kuat mengangkat tubuh gempal gustav. Namun, sesaat kemudian parasut itu pun naik perlahan-lahan pertanda gugurnya keraguan sebagian orang, dan semua bersorak gembira untuk gustav. Kini giliranku tiba, setelah di bantu mas-mas instruktur yang menurutku sebagiannya agak nyeleneh itu untuk memasang semua perlengkapan standar di tubuhku. Kamera kuserahkan pada esti untuk mengabadikan gambarku yang terbang di udara bagai seekor garuda yang mengamati nusantara dari udara (kenapa jadi kaya kampanye gini ya???). Maap sodara-sodara 😀.

Read the rest of this entry »

Posted in Another Stories... | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Senja di Uluwatu

Posted by Ismadi Santoso on November 23, 2008

senja014

Diambang senja sore itu

Langkah kaki ku membawaku

Menyusuri tebing-tebing berbatu

Di Uluwatu

Nun jauh di kaki langit sana

Mega merah berarak menghias angkasa

Menemani sang surya membagi sinarnya

Ke sisi lain dunia

Suasana jingga merekah seketika

Menebar hening ke dalam kalbu

Bagi mereka yang menjagakan jiwa

Dalam tafakur alam yang syahdu

Dan senja pun berlalu…

Adakah ia sejingga senjamu?

Apakah ia juga senja yang sama?

Ataukah kita berada dilangit yang berbeda?

Gelap yang datang perlahan…

Kian lama menutupi seluruh jingga mu

Bahkan Bulan sabit yang datang kemudian

Tak kan pernah dapat menggantikan aura mu

Posted in Another Stories... | Tagged: , , , , | 1 Comment »

The Resigner Desk

Posted by Ismadi Santoso on October 28, 2008

Beberapa waktu kemaren, temen-temen sempat rame banget membicarakan tentang hal ini di fb. Sebenarnya, akupun sudah lama ingin menulis tentang ini, tetapi selalu saja nggak sempet :p, mungkin sekaranglah saatnya. Resigner Desk adalah sebuah bangku panjang di ruang TornadoN Plasa Kuningan, kantor ku yang dulu. Hanya sebuah bangku biasa memang, namun begitu banyak “history” yang terukir disana sejak kehadiranya untuk yang pertama kali di tempat itu. TornadoN Room adalah ruangan yang sangat sakral di gedung itu. Di ruangan itulah desain dan planning radio network (siemens) pertama kali di lakukan. Pada zaman dahulu kala, tidak semua orang boleh seenaknya keluar masuk. Hanya Radio Planner (RNP) dan orang-orang yang memiliki otoritas yang dapat mengakses ruangan itu. Namun, hal tersebut tidaklah berlangsung lama. Beberapa bulan kemudian, sejarah mencatat bahwa kedatangan sekitar belasan radio planner baru ke Siemens HCPT project mengubah segalanya.

Dikarenakan minimnya fasilitas tempat duduk yang ada di Plas_Kun HCPT Project Planning & Engineering Department, belasan Radio Planner baru yang masih dalam fase “training” itu terpaksa luntang-lantung nggak jelas posisinya. Dan tentu saja aku adalah salah seorang diantaranya. Entah aku harus bersyukur atau malah bersedih karenanya :P. Saat itu “base camp” kami adalah ruangan training di lantai 7. Namun, diasaat seluruh ruangan training dipakai kita terpaksa migrasi ke lantai 9 mengisi beberapa bangku kosong yang ditinggalkan tuannya dengan berbagai macam alasan. Dan sisanya, memenuhi lobby lantai 9 dengan mengambil area di sekitaran lift, dan sisanya ini pun masih berjumlah belasan. Yups, kita semua duduk lesehan sembari menanti instruksi selanjutnya dari “atas”. Di saat petugas cleaning services hendak melakukan tugasnya, kita terpaksa menyingkir (atau tersingkir) untuk kesekian kalinya. Akhirnya instruksi dari “atas” itu datang juga. Dengan alasan merusak pemandangan, mengganggu ketertiban umun, menghindari kegaduhan, dan segudang alasan lainnya, kami diminta untuk tidak lagi berdiam disekitar lift lantai 9, dan diluar jam makan, kami harus berada di ruang kantin lantai 9. Dan kami pun hanya bisa pasrah mengikutinya. Sejak saat itu kantin lantai 9 resmi menjadi “base camp” kami.

Tidak lama berselang boss ki2t selaku salah orang “pembesar” di departemen kami mengeluarkan kebijakan sensasional dengan memutuskan untuk menambah meja baru ke dalam ruang tornado guna memfasilitasi belasan radio planner baru, yang selama ini nongkrong di kantin yang konon katanya cuman pada “nge-game” mulu tiap hari. Dibumbui dengan beberapa alasan bijak lainnya yang tak kalah serunya tentunya, seperti menerjunkan secara langsung anak-anak baru itu ke dunia yang sesungguhnya, meningkatkan team work dengan para seniornya, memudahkan pendelegasian tugas-tugas dan tentu saja hands on dengan Tornado selaku tools utama seorang radio planner. Hal itu tentu saja merubah suasana ruang tornado menjadi lebih padat dan lebih ribut dari sebelumnya dengan kehadiran anak-anak baru yang terlihat sangat ceria. Dan yang Sejak saat itu nasib kami berubah, secara tidak langsung hal itu adalah pertanda penerimaan lingkungan kerja terhadap kami the new comers. Meja baru di tengah-tengah Ruang Tornado itulah yang di kemudian hari dikenal dengan “the resigner desk”. Sejak saat itu, cerita demi cerita terukir diatasnya hingga saat ini. Kehadiran meja tersebut ditambah dengan anak-anak baru yang terlalu sulit untuk diatur :p, perlahan namun pasti megikis kesakralan Ruang Tornado hingga akhirnya ruang tornado menjadi bener-bener tidak sakral sama sekali. Setiap orang bebas keluar-masuk Tornado, bukan hanya RNP saja, TNP, FNP, Core, bahkan Sitac sekalipun.

Read the rest of this entry »

Posted in Another Stories... | Tagged: , , , , | 6 Comments »

BALIKPAPAN, IMPIAN YANG SEMPURNA

Posted by Ismadi Santoso on October 12, 2008

Minggu ke dua awal tahun 2006, sebuah kesempatan meniti masa depan mendatangi ku, di saat aku sedang memasuki babak akhir proses perjalanan menggapai sebuah cita-cita. Bimbang memilih antara sebuah idealisme (baca: impian) dan realitas yang terhampar sangat jelas didepan mata. Akhirnya, dengan berat hati saat itu aku memilih mengejar Impian dan meninggalkan Realitas. Tetapi kemudian Sang Ilahi berkehendak lain. Impian rupanya bukan ditakdirkan untukku sementara di sisi lain Sang Realitas telah meninggal kan ku jauh di belakang.

Ditengah kebingungan ku itu itu seorang teman datang padaku dan mengatakan “Ada suatu saat dalam hidup kita dimana sebuah idealisme harus dipertemukan dengan realita Madi”. Ya, dia memang benar. Itulah jawaban yang selama ini kucari. Manusia hidup selayaknya memiliki impian atau tujuan, tetapi tujuan atau pun impian itu harus sesuai dengan realita yang ada. Dengan berat hati aku mengurungkan niat ku untuk kembali ke Balikpapan yang sebelumnya menjadi harga mati ku. Sedih memang tapi itulah kenyataan yang harus kuhadapi.

Beberapa bulan kemudian aku mengambil langkah sebuah langkah ekstrim. Bukan saja untuk menerima kota Jakarta menjadi tempat tinggalku, tetapi juga menerima sebuah pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah aku impikan. Sejak pertama kali meninggalkan kota Balikpapan, aku tidak pernah punya keinginginan untuk menetap di Jakarta. Saat itu bagiku Jakarta adalah penjajah dari daerah-daerah kecil seperti Balikpapan dan lainnya. Sebagian besar devisa yang dihasilkan oleh kota “selicin minyak” itu dipindah tangankan ke Jakarta. Hanya kurang dari 5% yang di kembalikan ke daerah. Dan hasilnya sangat jelas terasa pembangunan di DKI JKT luar biadap pesatnya, sementara dikota ku hampir tidak ada pembangunan sama sekali. Bahkan disaat aku lulus SMA ditahun 1999 tak ada satu kampus pun yang layak untuk dijadikan tumpuan meniti jalan menuju masa depan. Inilah yang selalu kukatakan dengan sebuah ironi riil yang menimpa sebuah daerah yang justru memberikan devisa terbanyak bagi NKRI. Hal itulah yang memaksa aku dan teman2 ku yang ingin melanjutkan kuliah untuk pergi jauh ke Read the rest of this entry »

Posted in Another Stories... | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Eid Mubaarak 1429 H

Posted by Ismadi Santoso on October 4, 2008

Demi matahari dan sinarnya di pagi hari.

Demi bulan apabila ia mengiringi.

Demi siang hari apabila ia menampakkan diri.

Demi malam hari apabila ia menutupi.

Demi langit dan segala binaannya.

Demi bumi dan segala apa yang dihamparkan diatasnya.

Demi jiwa yang telah diciptakan dan penyempurnaannya.

Maka sungguh, Allah telah mengilhamkan sukma kebaikan dan sukma kejahatan kedalam setiap jiwa.

Maka beruntunglah bagi siapa yang memilih mensucikan jiwanya

Dan Celakalah bagi siapa yang memilih untuk mengotorinya.

(QS. As-Syams 91:1-10)

Tak terasa ramadhan 1429 H telah berlalu, dan kita telah memulai syawal yang indah. Meskipun agak terlambat izinkanlah saya mengucapkan Taqobbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamukum, Minal Aidhin wal Faidhin, Mohon maaf lahir dan bathin atas segala khilaf yang pernah terjadi, secara sengaja atau pun tidak. Semoga Allah mempertemukan kita semua dengan bulan Ramadhan berikutnya. Dan Semoga kita semua menjadi Muslim yang bertaqwa. Amin Yaa Rabbal ‘Alamin…

(Balikpapan: 04-Syawal-1429 H)

Posted in A Confession | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Rabbnya Mengecil…?

Posted by Ismadi Santoso on September 23, 2008

Hidup adalah pembanding saja, jadi kalau salah membandingkan, kebahagiaan kita akan hilang. Contoh sederhana adalah Amri sangat tinggi kalau dibandingkan dengan anak yang usia dua tahun. Tapi kalau Amri dibandingkan dengan orang yang lebih tinggi, maka Amri akan menjadi pendek. Begitu juga kulit Amri, akan terlihat putih kalau dibandingkan dengan beberapa temen dari negara tertentu, namun suatu ketika rapat dengan beberapa negara tertentu yang kulitnya sangat putih, maka saat itu Amri terlihat sangat hitam. Bahkan ketika foto bersama setelah rapat itu, dari semua peserta rapat, Amri paling hitam. Pada waktu itu, posisi fotonya ditengah, jadi Amri terlihat seperti tembok pemisah antara blok kanan dan blok kiri. Begitu juga kehidupan, terutama yang berkaitan dengan ketenangan hati dalam menghadapi hidup, sangat tergantung pada bagaimana kita membandingkan. Kalau salah membandingkan, maka siap-siap saja kita akan tidak pernah bahagia. Kemudian timbul pertanyaan, Apakah yang dapat menyebabkan kita akan selalu merasakan ketentraman hati?. Jawabnya sangat sederhana, yaitu: ”Rabb kita tidak boleh mengecil”. Maksudnya adalah, meletakkan Rabb dalam hati keimanan kita menjadi Rabb Maha Besar. Ketika hal itu dapat kita lakukan maka apun permasalahan kehidupan. kita akan menjadi sangat lapang.

Ketika kami kedatangan tamu, kebetulan beliau penghasilannya sangat banyak dan berlimpah, sebab semua fasilitas keluarganya tercukupi oleh perusahaan, maka beliau bisa tersenyum dengan lebar, berjalannya sangat gagah, berbicaranya penuh optimistis dan lain sebagainya. Kemudian dua tahun berikutnya, perusahaan tempat dia bekerja bangkrut, sehingga temen saya ini gajinya harus dikurangi sangat drastis dan bahkan mau dirumahkan, maka saat itu beliau juga sering kerumah dengan wajah terlihat 10 tahun lebih tua dari usia sebenarnya. Sejak saat itu, beliau tidak pernah bahagia, tidak pernah optimis, wajah ketakutan seperti dikejar perampok. Ini terjadi karena Rabbnya mengecil. Secara tidak disadari, dirinya teracuni oleh bisikan kehidupan ”kalau penghasilan mengecil, dirinya akan kesulitan menghadapi hidup”.Padahal, gaji tidak sama dengan rizki.

Read the rest of this entry »

Posted in Core Value | Tagged: , | Leave a Comment »

Cinta dan Pernikahan

Posted by Ismadi Santoso on August 22, 2008

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya?

Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting
yang kamu anggap paling menakjubkan, artinyakamu telah menemukan cinta”.

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

Gurunya kemudian menjawab “Jadi ya itulah cinta”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya? ”

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan saja. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

Read the rest of this entry »

Posted in Ibrah... | Tagged: , , , | Leave a Comment »

POHON JENGKOL SAHABATKU

Posted by Ismadi Santoso on July 20, 2008

Ada yang suka atau bahkan mungkin tergila-gila dengan “Jengkol”? Sebagian ada yang sukanya di semur, ada yang di goreng, bahkan ada juga yang di bakar. Kalau aku sih, hanya suka menyendiri di sebatang pohon jengkol yang sangat rimbun dengan banyaknya dahan yang melintang di setiap sisinya. Kenyataan yang sangat melegakan buat orang yang tidak suka (baca: bisa) memanjat seperti diriku. Seolah pohon jengkol itu memenggil-manggil ku untuk memanjatnya, datanglah…! katanya, panjatlah diriku dengan mudahnya, dan beristirahatlah di salah satu dahan ku yang kau suka, percayalah kau akan merasa nyaman disini, bersamaku 😀.

Adalah sebuah hutan yang terletak persis dibelakang asrama tempat ku tinggal saat itu. Di seberang sebuah sungai kecil, di lereng perbukitan hutan akasia yang terletak kira-kira sepuluh kilometer dari pusat kota Balikpapan. Di tempat itulah telah berdiri dengan kokohnya sebatang pohon jengkol yang rindang. Pohon akasia dan rangkaian perdu serta semak-semak yang berada disekitarnya pun seolah takzim dengan keberadaannya. Sangatlah kontras memang, ditengah-tengah rerimbunan akasia yang tumbuh subur menutupi sisi barat laut perbukitan itu ia tumbuh dan berkembang. Ia tak pernah merasa merasa sedih ataupun kesunyian sebab akasia, perdu dan semak-semak itu menerima keadaan pohon jengkol itu apa adanya sebagai hamba Allah yang bersama-sama bertasbih siang dan malam memuji ke-Agungan Rabb nya yang telah mencipatakan mereka semua sebagai mana Firman-Nya: “Dan tumbuh-tumbuhan serta pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya” (QS. Ar-Rahman 55:06).

Read the rest of this entry »

Posted in Another Stories... | Tagged: , , , , | Leave a Comment »