Something to Share With…

just from a learner who still in the learning stage…

Posts Tagged ‘Tanjung Benoa’

TANJUNG BENOA ADVENTURE (Part 2)

Posted by Ismadi Santoso on November 26, 2008

Di minggu siang itu yang memutuskan untuk mengikuti petualangan bawah air adalah Risuky, Beto, Gustav dan Aku. Kami pun di guide oleh pihak penyelengara ke ruang ganti untuk fitting pakaian selam, selaput katak, dan google. Malang nian nasibku, karena selaput katak yang seukuran kakiku sudah tidak ada (baca: habis), hanya tersisa ukuran yang besar. Sang guide menjanjikan ku kalau di boat sudah ada sepasang selaput katak ukuran kecil untukku. Setelah kami berganti kostum sang instruktur yang bertubuh tidak kalah gempal dari gustav datang menghampiri kami. Dan mengajak kami ke boat yang telah disiapkan

dive_img_05191Namun sebelum itu, kami tetap melakukan kebiasaan kami, prosesi narsis ria. Yups semua temen-temen yang tidak ikut diving pun pada semangat pengen foto bareng kami karena kami menggunakan kostum yang unik hari itu. Dan kami pun meminta bantuan salah seorang kru operator untuk mengambil beberapa gambar kami semua. Selesai sesi pemotretan, kami berempat plus boy yang selama ini paling banci foto, ternyata rela berbaik hati untuk mengiringi petualangan kami guna mengabadikan momen-momen langka yang akan terjadi. Teman-teman kali ini kita harus angkat topi buat sahabat kita “Alberto Boy Dopo Siahaan” :D. Kami pun berjalan mengikuti instruktur diving ke boat yang akan membawa kami ke diving spot. Sejujurnya selama perjalanan itu aku merasa sangat tegang. Kalau ada alat pengukur detak jantung, mungkin saat itu jantungku berdetak dua kali lebih sampai tiga kali cepat dari biasanya. Bahkan aku nyaris tidak mempedulikan boy yang sedang sibuk mengambil gambar kami. Bagaimana tidak tegang, aku yang hanya berpengalaman 2 jam snorkeling di Pulau Semak Daun Kepulauan Seribu dan beberapa jam water sport sehari sebelumnya harus berkenalan dengan laut jauh lebih dekat lagi. Untuk ukuran orang sepertiku yang tidak jago (kalau tidak boleh dikatakan tidak bisa) berenang harus memberanikan diri terjun kedasar lalut saat itu juga adalah hal yang sangat ekstrim dalam primbon hidupku. Nervous yang kurasakan kian memuncak ketika boat yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti. Dan kemudian sang nakoda melemparkankan jangkar nya ke dasar laut, pertanda kami telah sampai ke tempat tujuan.

Ditengah laut itu kami terombang ambing oleh ombak yang terasa cukup besar mengingat perahu yang kami tumpangi hanya berkapasitas enam orang. Bukan itu saja, kalau sang instruktur berjalan diatas perahu maka keseimbangan perahu pun menjadi sangat terganggu yang membuat kami semua semakin panik menyeimbangkan perahu dengan memerintahkan gustav untuk bergerak kearah yang berlawanan dengan sang instruktur, sementara sang instruktur hanya cengengas-cengenges melihat ulah aneh kami. Setelah membajak selaput katak dari seorang temannya yang sedang snorkeling ia memberikan hasil palakannya itu padaku, karena aku memang belum kebagian selaput katak di darat tadi. Sesaat kupaling kan wajah ku kearah pantai, tampak sangat jauh sekali jarak kami ke pantai yang akhirnya menambah ketengangan ku kian menjadi. Kemudian ia memulai briefing. Ia menjelaskan tentang tata cara penggunaan diving tools dengan seksama dari google, masker oksigen, selaput katak, lengkap beserta bahasa iyarat yang lazim di gunakan di dunia bawah laut. Pada sesi tanya jawab beto mengambil inisiatif untuk bertanya pertama kali. Beto:”mas kalo google kita berembun gimana solusinya, apa di copot aja?”. “hahahahaha….Goblok lo” sergah si instruktur, “kalo di bawah sono lu lepas google lo kemasukan airlah hidung dan mata lu lah, payah lu”. “Gerrrr….” Kami semua serentak tertawa mendengar jawaban konyol si instruktur. Hal yang sangat positif untuk mengurangi ketenganganku. Kemudian giliran risuky yang bertanya, Risuky:”mas kalo badan kita yang ketutupan baju selam basah gk ya kira-kira?”. “Ini lagi” jawab si instruktur. “kalo gk mau basah ya gau usah nyelam aja mas sekalian.” Wuakakakakakakka :D, kami pun terbahak-bahak menyaksikan percakapan mereka. Tampak sekali kalau si instruktur orangnya selengehan. Sejenak kusadari kalau ketegangan diperahu itu tampaknya bukan milikku seorang :p. “tapi mas”, si Risuky masih terlihat penasaran. “kalo gitu fungsi baju selam yang kita pake ini apa donk?” tanyanya. “Ya untuk menjaga temperatur badan kita agar tidak terlalu dingin karena secara langsung bersentuhan dengan air laut. Ok?” jawab instruktur itu.

Kemudian ia berteriak sambil menunjuk kearah gustav “delapan…!”, kearah risuky “lima!”, dan bersamaan menunjuk kearah ku dan beto sambil berteriak “empat !”. Aku tetep nggak ngeh dengan kelakuan instruktur itu barusan, sementara yang lainynya pun saling pandang tak mengerti. Baiklah kita tunggu saja apa yang akan terjadi, pikirku. Kemudian nakoda tadi membawa semacam sabuk baja berukuran besar dan melilitkan dengan sangat kokoh ke pinggang si gustav. Olala akhirnya kami mengerti ternyata angka2 barusan adalah pemberat yang dibutuhkan untuk masing2 postur kita. Gustav tentu saja mendapat ukuran besarrr, sementara risuky mendapat sabuk ukuran sedang, aku dan beto mendapat yang ukuran mini 🙂. Sesaat sebelum turun instruktur menjelaskan kepada kami tentang dive_imgp1416btrik untuk menghadapi tingginya tekanan air pada telinga kita. Dengan cara, kita bisa menghembuskan nafas dari hidung sambil menutup dan menekan hidung kita keras2 dan merasakan tekanan udara yang keluar melalui telinga kita untuk melawan tekanan air. Sambil memperaktekkannya instruktur itu memerintahkan kami untuk memegang hidung kami masing-masing. Herannya, salah seorang dari kami bukannya memegang hidung tetapi malah memegang kuping. Aku jadi bertanya-tanya bagaimana ceritanya dia bisa lulus tk ya? :D. Setelah itu instuktur memerintah kan kami satu-persatu terjun keair setelah lebih dulu menggunakan selaput katak dan google. Trus kemana tabung dan masker oksigennya? (Tanya ku dlm hati). Karena masih sangat ragu aku mempersilakan beto untuk mendahuluiku mengambil kesempatan pertama sambil mengamati secara rinci setiap detik waktu yang berlalu. Beto pun turun, byurrrr…. Dan dibawah sana ada penyelam yang menyambutnya dan memakaikan tabung oksigen ke bahu beto. Ohhh jadi begitu caranya, guman ku. Ketika semuanya sudah menjadi jelas bagiku, dan segalanya tampak aman, aku pun tanpa ragu terjun keair dan sang penyelam itu pun melakukan hal yang sama pada ku dan kemudian memintaku untuk tetap berpegangan dan beradaptasi dengan masker oksigen di mulutku.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Posted in Another Stories... | Tagged: , , , | Leave a Comment »