Something to Share With…

just from a learner who still in the learning stage…

Posts Tagged ‘Wordpress’

Meminang Bidadari

Posted by Ismadi Santoso on April 26, 2009

“Menikah ?”
“Ya..”
“Tentu”, jawab Ayesha tanpa ragu.
“Pertimbangkan dulu. Jangan cepat ambil keputusan.” Bibinya berkata benar. Ayesha sedikit tersipu, tangannya membenahi abaya yang dipakainya dengan rikuh.

“Dengan siapa, Ammah ?”

Wajah lembut itu tiba-tiba mengeras. Kedua matanya mendadak meyembung. Mungkin karena air mata yang siap turun, entah kenapa. Luapan bahagiakah, karena keponakannya yang diurus sejak kecil ini akhirnya ada yang meminang ? Ayesha menunggu jawaban dari ammahnya. Tapi beberapa kejap hanya dilalui gelombang senyap.

“Ammah….dengan siapa ?”

Pandangan tajam wanita berumur itu menembus bola mata Ayesha. Seperti menimbang-nimbang kesiapan keponakan yang dicintainya itu, menikah. Ayesha membalas pandang, lebih karena ia tak mengerti kenapa pernikahan, kalau memang itu yang akan terjadi padanya, tak disambut ammah dengan riang, seperti pernikahan pada umumnya.

“Dengan Ayyash !”

Ayyash ?

Ammah mengangguk. Wajahnya pucat, namun terkesan lega. Biarlah…..biarlah Ayesha yang memutuskan….ini hidupnya.

Suara hati wanita itu bicara.
Di depannya tubuh Ayesha seperti kaku. Seolah tak percaya. Senang, tapi juga tahu apa yang akan dihadapinya. Berita itu mungkin benar. Yang jadi pertanyaan, siapakah dia ? “Kau pikirkan dulu, ya ? Ia memberi waktu sampai tiga hari. Katanya lebih cepat lebih baik.” Ayesha masih tak bergerak. Pandangannya menembus jendela, meyisiri rumah- rumah di lingkungannya, dan debu tebal yang terembus di jalan.

Pernikahan….sungguh penantian semua gadis. Dengan Ayyash pula, siapa yang keberatan ? Tapi semua pun tahu, apa arti sebuah pernikahan di Palestina. Tantangan, perjuangan lain yang membutuhkan kesiapan lebih besar. Terutama bagi setiap gadis, yang menikahi pemuda pejuang macam Ayyash!

***

Dulu sekali, sewaktu kecil, ia tak memungkiri, kerap memperhatikan Ayyash dan teman-temannya dari balik kerudung yang biasa ditutupkan ke wajah, jika mereka kebetulan berpapasan. Mereka bertetangga. Begitulah Ayesha mengenal Ayyash, dan melihat bocah lelaki yang usianya lebih tua lima tahun darinya, tumbuh dewasa.

Ayah Ayyash salah satu pemegang pimpinan tertinggi di Hamas, sebelum tewas dalam aksi penyerangan markas tentara Israel. Ibunya, memimpin para wanita Palestina dalam berbagai kesempatan, mencegat, dan mengacaukan barisan tentara Yahudi, yang sedang melakukan pengejaran atas pejuang intifadah.

Mereka biasa muncul tiba-tiba dari balik tikungan yang sepi, atau memadat di pasar-pasar, dan menyulitkan pasukan Israel yang mencari penyusup. Bukan tanpa resiko, karena semua pun tahu, para tentara itu tak menaruh kasihan pada perempuan, atau anak-anak. Para perempuan yang bergabung, menyadari betul apa yang mereka hadapi. terkena tamparan atau tendangan, bahkan popor senapan, hingga tubuh mengucurkan darah, bahkan terlepas nyawa, adalah taruhannya.

Ayesha sejak lima tahun yang lalu, tak pernah meninggalkan satu kalipun aksi yang diadakan. Ia iri dengan para lelaki yang mendapat kesempatan lebih memegang senjata. Itu sebabnya gadis berkulit putih kemerahan itu, tak ingin kehilangan kesempatan jihadnya, sejak usia belia.

Tiga tahun lalu, ketika ibunda Ayyash syahid, dalam satu aksinya, setelah sebuah peluru mendarat di dahinya, mereka semua datang, juga Ayesha, untuk menyalatkan wanita pejuang itu. Pedihnya kehilangan ummi, Ayesha menyadari perasaan berduka yang bagaimanapun memang manusiawi. Begitu kagumnya ia melihat ketegaran Ayyash, mengatur semua prosesi, hingga tanah menutup dan memisahkannya dari ibunda tercinta. Tak ada sedu sedan, tak ada air mata. Hanya doa yang terucap tak putus. begitulah Ayyash menghadapi kehilangan abi, saudara-saudara lelakinya, adik perempuannya yang paling kecil, lalu terakhir ummi yang dikasihi. Begitu pula yang dipahami Ayesha, cara pejuang menghadapi kematian keluarga yang mereka cintai.

Dan kini, Ayesha dua puluh dua tahun. masih menyimpan pendar kekaguman dan simpati yang sama bagi Ayyash. Bocah lelaki bermata besar itu sudah menjelma menjadi lelaki gagah, dengan kulit merah kecoklatan, hidung bangir, dan mata setajam elang. Semangat perjuangan dan ketabahan lelaki itu sungguh luar biasa. Sewaktu kedua abangnya melakukan aksi bom bunuh diri, meledakkan gudang logistik Israel, ia hanya mengucapkan innalillahi, sebelum bangkit dan menggemakan Allahu Akbar, saat memasuki rumah, dan mengabarkan berita itu pada umminya.

Lalu ketika Fatimah, adiknya yang berpapasan dengan tentara, diperkosa, dan dibunuh sebelum dilemparkan ke jalan dengan tubuh tercabik-cabik. Ayyash masih setabah sebelumnya. Padahal siapapun tahu, cintanya pada Fatimah, bungsu di keluarga mereka.

Ayesha tak mengerti terbuat dari apa hati lelaki itu. Setelah semua kehilangan, tak ada dendam yang lalu membuatnya membabi buta atau meluapkan amarah dengan makian kotor. Ayyash menerima semua itu dengan keikhlasan luar biasa. Hanya matanya yang sesekali masih berkilat, saat ada yang menyebut nama adiknya. Di luar itu, hanya keshalihan, dan ketaatannya pada koordinasi gerak Hamas, yang kian bertambah. Begitu, dari hari ke hari.

***

Mereka berhadapan. Pertama kali dalam hidupnya ia bisa bebas menatap wajah lelaki itu dari jarak dekat. Ayyash yang tenang. Hanya bibirnya yang menyunggingkan senyum lebih sering, sejak ijab kabul diucapkan, meresmikan keberadaan keduanya.

Ayyash yang tenang dan hati Ayesha yang bergemuruh. Bukan saja karena kebahagiaan yang meluap-luap, tapi oleh sesuatu yang lain. Sebetulnya hal itu ingin disampaikannya pada lelaki yang kini telah menjadi suaminya.

Namun saat terbayang apa yang telah dihadapi Ayyash, dan senyum yang dilihatnya pertama kali begitu cerah. Batin Ayesha urung. Biarlah….nanti-nanti saja, atau tidak sama sekali, pikirnya. Ia tak mau ada yang merisaukan hati lelaki itu, terlebih karena waktu yang mereka miliki tak banyak. Bahkan sebentar sekali. Dua hari lalu, Ayyash sendiri yang meyampaikan kebenaran berita itu, niatan lelaki berusia dua puluh tujuh tahun, yang sudah selama dua pekan ini dibicarakan dari mulut ke mulut.
“Ayyash mencari istri ?”
“Ia akan menikah secepatnya, akhirnya ”
“Tapi siapa yang akan menerima pernikahan berusia sehari semalam ?” Percakapan gadis-gadis di lingkungan mereka. Awalnya Ayesha tak mengerti.
“Kenapa sehari semalam ?”, tanyanya pada ammahnya.
“Sebab, lelaki itu sudah menentukan hari kematiannya, Ayesha. Kini tinggal sepekan lagi. Waktunya hampir habis.” Ayesha ingat ia tiba-tiba menggigit bibir menahan sesak yang tiba-tiba melanda. Ayyash pasti sudah menyanggupi melakukan aksi bom bunuh diri, seperti dua saudaranya dahulu. Cuma itu alasan yang bisa diterima, kenapa pejuang yang selama ini terkesan tak peduli dan tak pernah memikirkan untuk menikah, tiba-tiba seolah tak sabar untuk segera menikah. “Saya ingin menghadap Allah, yang telah memberi begitu banyak kemuliaan pada diri dan keluarga saya, dalam keadaan sudah menyempurnakan separuh agama. Kalimat panjang lelaki itu, wajahnya yang menunduk, dan rahangnya yang terkatup rapat. Menunggu jawaban darinya. Ayesha merekam semua itu dalam ingatannya. Dua hari lalu, saat khitbah dilangsungkan. “Ya….”jawabannya memecah kesunyian. Ammah serta merta memeluknya dengan wajah berurai air mata. Bahagia berbaur kesedihan atas keputusan Ayesha. Membayangkan keponakannya yang selalu dibanggakan karena semangatnya yang tak pernah turun, akan menjalani pernikahan. Yang malangnya, bahkan lebih pendek dari umur jagung.

Berganti-ganti Ayesha melihat wajah ammah yang basah air mata, lalu senyum dari bibir Ayyash yang tak henti melantunkan hamdalah. Di depan Ayesha, Ayyash tampak begitu bahagia, karena tiga hari, sebelum tugas itu dilaksanakan, ia berhasil menemukan pengantinnya. Seorang bidadari dalam perjuangan yang ia hormati, dan kagumi kekuatan mental maupun fisiknya. Ya, Ayesha. Mereka masih bertatapan. Saling menyunggingkan senyum. Ayesha yang

Wajahnya masih sering bersemu dadu, tampak sangat cantik di mata Ayyash. Pengantinnya, bidadarinya…..kata-kata itu diulangnya berkali-kali dalam hati. Namun betapapun cantiknya Ayesha, Ayyash tak hendak melanggar janji yang ditekadkan jauh dalam sanubarinya. “Ayesha…..saya tak menginginkanmu, bukan karena saya tak menghormatimu.” Senyum Ayesha surut. Matanya yang gemintang menatap Ayyas tak berkedip, menunggu kelanjutan kalimat lelaki itu. Ini malam pertama mereka, dan setelah ini, tak akan ada malam-malam lain. Besok selepas waktu dhuha, lelaki itu akan menemukan penggal akhir hidupnya, menemui kekasih sejati. Allah Rabbul Izzati. Tak layakkah Ayesha memberikan yang terbaik baginya ?
Bagi ia yang akan menjelang syahid ? Pendar di mata Ayesha luluh. Ayyash mendongakkan dagunya, tangannya yang lain menggenggam jari-jari panjang Ayesha, seakan mengerti isi hati
istrinya.

“Saya mencintaimu, Ayesha. Dan saya meridhai semua yang telah dan akan Ayesha lakukan selama kebersamaan ini dan setelah saya pergi. Saya percaya dan berdoa, Allah akan memberimu seorang suami yang lebih baik, selepas kepergian saya.” Ayesha tersenyum. Menyembunyikan hatinya yang masih gemuruh. Seandainya ia bisa menceritakannya pada Ayyash. Tapi ia tak sanggup. “Tak apa. Saya mengerti.” Cuma itu yang bisa dikatakannya pada Ayyash. Suasana sekitar hening. Langit tanpa bulan tak mempengaruhi kebahagiaan di hati Ayyash. Bulan, baginya, malam ini telah menjelma pada kerelaan dan keikhlasan istrinya.

“Saya ingin, Ayesha bisa mendapatkan yang terbaik.” Lelaki itu melanjutkan kalimatnya. “Dan karenanya saya merasa wajib menjaga kehormatanmu. Kita bicara saja, ya ? Ceritakan sesuatu yang saya tak tahu, Ayesha.” Ayesha menatap mata Ayyash, lagi. Disana ia bisa melihat kegarangan dan keteduhan melebur satu. Sambil ia berpikir keras apa yang bisa ia ceritakan pada lelaki itu ? Tak lama dari bibir wanita itu meluncur cerita-cerita lucu tentang masa kecil mereka. Canda teman-teman mainnya, dan kegugupannya saat pertama berhadapan dengan Ayyash. Juga jari-jari tangannya yang berkeringat saat ia mencium tangan Ayyash pertama kali.
Betapa ia hampir terjatuh karena kram, akibat duduk terlalu lama, ketika mencoba bangun menyambut orang-orang yang datang menyalami mereka tadi pagi. Di antara senyum dan derai tawa suaminya, Ayesha masih berpikir tentang lelaki yang duduk di hadapannya. Sungguh, ia ingin membahagiakan Ayyash, dengan cara apapun. Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Ayyash, membuat Ayesha tak habis pikir. Kenapa kebahagiaan orang lain, bisa membuatnya begitu bahagia ? Tapi inilah kebahagiaan itu, bisiknya sesaat setelah mereka menyelesaikan sholat malam dan tilawah bersama. Kali pertama dan terakhir. Kebahagiaan bukan pada umurnya, tapi pada esensi kata bahagia. Dan Ayesha belum pernah sebahagia itu sebelumnya.

Mereka masih belum bosan menatap satu sama lain, dan berpegangan tangan. Saat ia merebahkan diri di dada Ayash setelah sholat subuh, lelaki itu tak menolak.

“Biarkan saya berbakti padamu, Ayyash”

Ia ingat Ayyash menundukkan wajah dalam, seperti berpikir keras, sebelum kemudian mengangguk dan menerimanya. Beberapa jam lagi, Ayesha menghitung dalam hati. Kedua matanya memandangi wajah Ayyash yang pulas di depannya. Tinggal beberapa jam lagi, dan mereka akan tinggal kenangan. Dirinya dalam kenangan Ayyash, Ayyash dalam kenangan orang-orang sekitarnya. Ketika fajar mulai menampakkan diri, Ayesha yang telah rapi, kembali menatap Ayyash yang tertidur pulas, mencium kening dan tangan lelaki itu, sebelum meninggalkan rumah dengan langkah pelan.

***

Ia terbangun oleh gedoran di pintu. Pukul setengah tujuh pagi. Kerumunan di depan rumahnya. pagi pertama pernikahan mereka. Ada apa ? “Ayyash….istrimu, Ayesha.” Ada titik air meruah di wajah ammah Ayesha. Lalu suara-suara gemang berdengung. Saling meningkahi, semua seperti tak sabar menyampaikan berita itu padanya.

“Setengah jam yang lalu, Ayyash. Ledakan…Ayesha yang melakukannya…”
“Gudang peluru itu. Bunyi…bagaimana kau bisa tak mendengar ?”
Ayyash merasa tubuhnya mengejang. Istrinya…..Ayesha mendahuluinya ? Kepalan tangannya mengeras. Mengenang semua keceriaan dan kejenakaannya, serta upaya Ayesha membahagiakannya semalam. Jadi….Masya Allah !

Istrinya kini….benar-benar bidadari.
Pikiran itu menghapuskan rasa sedih yang sesaat tadi mencoba menguasai hatinya. meski senyum kehilangan belum lepas dari wajah lelaki itu, sewaktu ia undur diri, dari kerumunan di depan rumah.

Keramaian yang sama masih menantinya dengan sabar, ketika tak lama kemudian lelaki itu berkemas, lalu dengan ketenangan yang tak terusik, melangkahkan kakinya meninggalkan rumah.

Waktunya tinggal sebentar. Tentara Israel pasti akan melakukan patroli kemari, sesegera mungkin, setelah apa yang dilakukan Ayesha. Ia harus segera pergi. Ayyash mempercepat langkahnya. teman-temannya sudah menunggu di dalam jip terbuka yang membawa mereka berempat.

Sepanjang jalan, tak ada kata-kata. semua melarutkan diri dalam zikir dan memutihkan niatan. Opearsi hari ini rencananya akan menghancurkan salah satu pusat militer Israel di daerah perbatasan. Memimpin paling depan, langkah Ayyash sedikitpun tak digelayuti keraguan, saat diam-diam mereka menyusup. Allah memberinya bidadari, dan tak lama lagi, ia akan menyusulnya.

Pikiran bahagianya bicara. Ayyash tersenyum, mengaktifkan alat peledak yang meliliti badannya. Ini, untuk perjuangan…

Dan bumi yang terharu atas perjuangan anak-anaknya, pun meneteskan air mata.
Hujan pertama pagi itu, untuk Ayyash dan Ayesha.

Asma Nadia, Sabili No. 01 Th X Juli 2002.

Advertisements

Posted in Another Stories... | Tagged: , , | 2 Comments »

POHON JENGKOL SAHABATKU

Posted by Ismadi Santoso on July 20, 2008

Ada yang suka atau bahkan mungkin tergila-gila dengan “Jengkol”? Sebagian ada yang sukanya di semur, ada yang di goreng, bahkan ada juga yang di bakar. Kalau aku sih, hanya suka menyendiri di sebatang pohon jengkol yang sangat rimbun dengan banyaknya dahan yang melintang di setiap sisinya. Kenyataan yang sangat melegakan buat orang yang tidak suka (baca: bisa) memanjat seperti diriku. Seolah pohon jengkol itu memenggil-manggil ku untuk memanjatnya, datanglah…! katanya, panjatlah diriku dengan mudahnya, dan beristirahatlah di salah satu dahan ku yang kau suka, percayalah kau akan merasa nyaman disini, bersamaku 😀.

Adalah sebuah hutan yang terletak persis dibelakang asrama tempat ku tinggal saat itu. Di seberang sebuah sungai kecil, di lereng perbukitan hutan akasia yang terletak kira-kira sepuluh kilometer dari pusat kota Balikpapan. Di tempat itulah telah berdiri dengan kokohnya sebatang pohon jengkol yang rindang. Pohon akasia dan rangkaian perdu serta semak-semak yang berada disekitarnya pun seolah takzim dengan keberadaannya. Sangatlah kontras memang, ditengah-tengah rerimbunan akasia yang tumbuh subur menutupi sisi barat laut perbukitan itu ia tumbuh dan berkembang. Ia tak pernah merasa merasa sedih ataupun kesunyian sebab akasia, perdu dan semak-semak itu menerima keadaan pohon jengkol itu apa adanya sebagai hamba Allah yang bersama-sama bertasbih siang dan malam memuji ke-Agungan Rabb nya yang telah mencipatakan mereka semua sebagai mana Firman-Nya: “Dan tumbuh-tumbuhan serta pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya” (QS. Ar-Rahman 55:06).

Read the rest of this entry »

Posted in Another Stories... | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

TANYA KU…?

Posted by Ismadi Santoso on July 13, 2008

Wanita selalu menawarkan keindahan. Entah sudah berapa juta atau mungkin berapa milyar puisi yang telah tercipta karena terinspirasi oleh mahluk yang bernama wanita. Ada berapa lagu yang liriknya menyatakan cinta seorang pria kepada wanita? Berapa juta bunga mawar yang layu bukan pada tangkainya tetapi dingenggaman seorang pria atau bahkan dipelukan wanita itu sendiri? Berapa juta uang yang dihabiskan untuk membeli rias dan perhiasan seorang wanita? Berapa banyak bangunan megah yang didirikan para pria untuk wanita yang dicintainya, sebagai bukti kecintaannya? Berapa banyak pengorbanan, kerelaan, dan pengabdian kepada seorang wanita? Dan bisakah kalian menyebutkan berapa banyak kehancuran, kerusakah, kehilangan, dan kepedihan yang disebabkan wanita? Sejauh yang aku ketahui, jumlahnya bahkan jauh lebih banyak dari jumlah wanita di dunia!

Read the rest of this entry »

Posted in A Confession | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Satu Lagi Tunas Muda Bersemi…

Posted by Ismadi Santoso on July 2, 2008

Ketika fajar menampakkan diri di sisi timur kaki langit, maka seluruh kehidupan di muka bumi kembali bergejolak menyambut sebuah hari yang baru. Ayam jantan berkokok sahut-sahutan, burung-burung berkicau dengan riang nya, bunga-bunga telah mekar dan bersemi di malam sebelumnya dengan indah menanti sinar mentari sambil tersenyum. Inilah lembaran baru dari suatu proses yang bernama kehidupan yang sifatnya sangat dinamis. Terkadang proses itu terasa sangat lamban mengalun sehingga kita dapat dengan khidmat menikmati setiap sisinya dan mengambil pelajaran dari setiap yang terserak bersamanya. Namun, adakalanya proses itu berjalan dengan sangat cepat bahkan lebih cepat dari bekerjanya alam kesadaran kita yang membuat kita terperangah, tidak percaya, tak dapat berbuat banyak bahkan terkadang sangat sulit untuk sekedar bisa mendekatinya.

Saat itu kami semua sedang berkumpul seperti biasa, melanjutkan budaya makan malam bersama yang terus menerus kami jaga bila ada seseorang diantara kami yang sedang mendapatkan kebahagiaan meskipun saat ini ada beberapa orang dari kami yang sudah tidak sekantor lagi. Malam itu giliran Lusi yang ulang tahun, tempat berkumpul yang dipilih Lusi adalah restoran seafood favorit kami di daerah kemang. Siang hari sebelumna Risuky Kun dan Lusi sendiri yang memberitahu ku. Tanpa pikir panjang, aku pun berangkat setelah jam kantor selesai. Sesampainya disana, aku sempat agak bingung juga, sempat terfikir kao aku salah meja karena begitu banyak wajah-wajah baru yang menghiasi TornadoN’ers kali ini. Setelah kuhitung-hitung, telah enam bulan lamanya aku meninggalkan Ruang TornadoN lt 9 Plasa Kuningan. Selama itu sudah sekian banyak pendatang-pendatang baru yang mengantikan kami pendahulu-pendahulu RNP HCPT Project yang telah mengundurkan diri. Meskipun di dunia per”DGE”-an mereka enggak bisa dibilang baru sebut saja nama-nama seperti Hilda, Oming, dan Ratih. Yang bener-bener baru mungkin hanya Robi dan Budi.

Segalanya tampak sangat normal malam itu, obrolan berjalan dengan demikian hangat yang diselingi dengan canda tawa khas temen-temen TornadoN. Makanan dengan lahapnya kami habiskan, terutama aku yang hari itu nggak ada saingan dalam hal menggerogoti ikan bakar karena absennya dua lawan beratku yang seisi tornado (lama) udah pada tau Tetty dan Esty. Diakhir acara itu Lusi mengumumkan hal yang mengejutkan semua orang ”Lusi Mengundurkan Diri dari NSN”, serentak semua orang terkesima mendengarnya Latief dan Yulius menganga hampir berbarengan seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, Hilda yang tanpa sadar mengucurkan air matanya, Putri dan Oming dengan tampang mupeng nya, aku dan Risuky Kun hanya terdiam membisu seribu bahasa, Bayu Murti yang sontak langsung mengucapkan ”selamat lus akhirnya kamu lulus juga”, sementara temen-temen yang lain berusaha mencerna dengan cermat tentang apa yang sebenarnya sedang saja terjadi. Ya, Lusi Engineer yang paling jujur, lembut dan paling nrimo yang pernah ada sepanjang sejarah Siemens, XSiemens dan NSN itu akhirnya memutuskan untuk hengkang dari jagad NSN menuju ke sebuah operator telekomunikasi paling bonafit di negeri ini. Dan malam itu adalah pentahbisan dari akhir petualangan salah seorang ex tender team 2007 di NSN untuk mengikuti jejak ex tender team yang lainnya yang telah lama mendahului (Madi, Fathur, Helen). Ah apa kabar mereka semua ya? Semoga mereka baik-baik saja. Buat team yang masih tersisa sabar ya temans, aku yakin pasti giliran kalian semua akan tiba, jadi jangan pernah berhenti berusaha dan berdoa. 🙂

Read the rest of this entry »

Posted in Another Stories... | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Rembulan di Langit Hati

Posted by Ismadi Santoso on June 11, 2008

Adalah sebuah lagu lama yang di hardisk ku terekam pada 03 Oktober 2004. Sepanjang yang kuingat hanya ”sekali” saja aku mendengarkannya. Namun saat itu jauh di lubuk hatiku ada suara yang berteriak meminta ku untuk mempelajari nya. Akupun berkata pada hatiku suatu hari nanti aku akan mencari tau tentang itu.

Satu-satu nya alasan yang membuatku menunda hal itu adalah saat itu seluruh perhatianku sedang terfokus pada satu kata ”TA” yang dalam bahasa sundanya kira2 ”tara anggeus-anggeus” :D. Dan kemudian masalah itu pun ku sisikan untuk sementara,tentunya tak lupa aku menyimpannya di hdd ku dengan harapan di masa yang kan datang, jika semuanya tlah berlalu aku akan memenuhi jeritan hati yg tertunda itu.

Waktu pun berlalu, sampai pada siang ini sesuatu telah menuntunku untuk membuka lembaran-lembaran lama dari masa laluku untuk mencari sesuatu, aku pun tak mengerti tentang apa yang kucari sesungguhnya, tangan ku hanya bergerak mengikuti kemana nurani ku menuntun. Hingga aku pun menemukannya. Ya, lagu itu, lagu yang telah kusimpan hampir empat tahun yang lalu namun terasa seperti baru kemarin siang ku mendengarkannya. Ya Allah, hampir empat tahun berlalu semenjak siang itu di lab ku tercinta, namun Rahman dan Rahim-MU tlah menuntun ku kepada satu titik dimana aku pernah berniat untuk belajar. Meskipun sempat terlewatkan demikian lama, namun tak pernah ada kata terlambat untuk belajar.

Read the rest of this entry »

Posted in Another Stories... | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Ngantri di Pagi Buta

Posted by Ismadi Santoso on June 6, 2008

Setelah fajar menyingsing di subuh hari itu, aku menunaikan kewajiban ku dan lantas turun ke lantai bawah untuk mandi. Itu sekitar jam 5.00 AM. Kepagian? Memang harus begitu, mengingat ibu kos lagi ngerombak kamar mandi lantai atas. Dan dikarenakan sang tukang salah perhitungan, maka pipa bak penampung air di loteng pun jadi korban yang ikut dihabisinya. Walhasil meluncurlah air dari bak penampungan yg keluar dengan sia-sia. Sebagai hasil dari kesalahan yang (menurutku sangat fatal) itu hanya tersisa 1 kamar mandi yang ”available” untuk 9 anak kos yg kudu ngantor pagi2 semua. Dan itulah alasan satu-satunya kenapa aku mandi sepagi itu.

Bener aja, sampe di bawah kamar mandinya udah ”occupied”, ku tengok kedinding jam menunjukkan pukul 05.05 AM. Well, sepagi itu pun aku udh harus ngantri? Apa mau dikata, akupun lantas duduk di kursi tamu dan menyalakan TV. Kupandangi kesekeliling ku, suasana di lantai bawah sangat hening, hampir tak ada tanda2 kehidupan sama sekali, kecuali hanya ada suara gemericik air dari kamar mandi.

Sepuluh menit kemudian, kreeekkk…. pintu kamar mandi terbuka, dan mas hery lah ternyata yang sukses mendahului ku. Kulihat jam menunjukkan pukul 05.15 AM.

Apa ada yg pengen sholat subuh ya (pikirku)? Karena ragu, aku pun menunggu kalau2 ada yang bangun dan pengen wudhu. Selang 5 menit berlalu (jam 05.20 AM) aku memutuskan untuk mulai mandi dengan ber”husnuzhan” bahwa temen2 di lantai bawah udh pada solat trus tidur lg, karena hari itu waktu subuh jatuh pada pukul 04.45 AM. Udh basi pikirku.

Sepuluh menit kemudian (jam 05.30) aku keluar dari kamar mandi dan tiba2 ada yang nyeletuk ”wah masih jauh dibawah target ternyata, harusnya sampe jam 6 kan!”. Astagfirullah, apa ”bapak” itu menyindirku? Ya rasanya sangat jelas begitu, aku cuma tersenyum dan dalam hati berkata (kemana aja pak?). Heran saya? Kalau emang niat subuhan bukannya sedari td harusnya dia udh bangun ya? Bahkan aku sudah sempet memberi selang waktu untuk menunggu kalo2 ada yg mo solat, dan ternyata emang gk ada kan? Masih pada molor smuanya! Dan diruang tamu itu, setelah aku keluar kamar mandi cuma dia sendiri yang nyerocos gk enak, yg laen hanya diem aja karena memang telah kusapukan pandangan ku keseluruh penjuru ruang tamu sambil tersenyum begitu ada celetukan itu, dan begitulah faktanya.

Read the rest of this entry »

Posted in Another Stories... | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Pesan Untuknya…

Posted by Ismadi Santoso on June 1, 2008

Tolong sampaikan pada si dia..
Tolong beritahu si dia, aku punya pesan buatnya..
Tolong beritahu si dia, cinta agung adalah cintaNya..
Tolong beritahu si dia, cinta manusia bakal membuatnya alpa..

Tolong nasehati si dia, jangan mencintaiku lebih dari dia mencintai Yang Maha Esa..
Tolong nasehati si dia, jangan mengingatiku lebih dari dia mengingat Yang Maha Kuasa..
Tolong nasehati si dia, jangan mendoakanku lebih dari dia mendoakan ibu bapak nya..

Tolong katakan pada si dia, dahulukan Allah kerana di situ ada surga..
Tolong katakan pada si dia, dahulukan ibu nya karena di telapak kaki ibu surganya..

Tolong ingatkan si dia, aku terpikat karena imannya bukan rupa..
Tolong ingatkan si dia, aku lebih mencinta zuhudnya bukan harta..
Tolong ingatkan si dia, aku mengasihinya karena kesantunannya..

Tolong tegur si dia, bila dia mengagungkan cinta manusia..
Tolong tegur si dia, bila dia tenggelam dalam angan-angannya..
Tolong tegur si dia, andai nafsu menguasai fikirannya.

Tolong sadarkan si dia, aku milik Yang Maha Esa..
Tolong sadarkan si dia, aku masih milik keluarga..
Tolong sadarkan si dia, saat ini tanggungj awabnya besar kepada keluarganya..

Tolong sabarkan si dia, usah ucapkan cinta di kala cita-cita belum terlaksana.
Tolong sabarkan si dia, andai diri ini enggan tuk dirapati kerana menjaga batasan cinta..
Tolong sabarkan si dia, bila jarak jadi penyebab bertambah rindunya..

Tolong pesan padanya, aku tidak mau menjadi fitnah besar kepadanya..
Tolong pesan padanya, aku tidak mauu menjadi puncak kegagalannya..
Tolong pesan adanya, aku membiarkan Yang Esa menjaga dirinya..

Read the rest of this entry »

Posted in A Confession | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Supremasi Hukum Ala Rasulullah

Posted by Ismadi Santoso on May 29, 2008

Rasulullah SAW selalu memaafkan setiap orang yang menyakiti dirinya. Akan tetapi, ia tidak pernah memaafkan orang-orang yang melanggar undang-undang (hukum Allah). Ia tidak pernah menoleransi siapa pun yang melakukan hal itu. Hal itu dikarenakan hukum Allah yang adil dan bijaksana adalah penjamin keamanan dam kemaslahatan kehidupan bermasyarakat dan penegak berdirinya sebuah masyarakat yang madani.

Pada peristiwa pembebasan kota Makkah, salah seorang wanita dari kabilah Bani Makhzum mencuri dan pencurian yang dilakukannya sudah terbukti. Dengan ini harus dijalankan hukum atas dirinya. Keluarganya yang masih terjangkiti cara berpikir fanatisme kabilah menganggap bahwa dijalankannya hukum atas wanita itu adalah aib besar bagi kabilahnya. Dengan ini mereka sepakat untuk mencegah hukum itu dijalankan. Rasulullah SAW dengan lantang berkata: “Kaum-kaum sebelum kalian binasa karena mereka pilih kasih dalam menjalankan hukum. Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, dalam menjalankan keadilan aku tidak akan pernah mundur selangkah pun meskipun pelaku kriminalitas itu adalah keluarga dekatku sendiri”. Bahkan dalam sebuah hadits shahih beliau bersabda ”seandai nya Fatimah binti Muhammad mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya.”

Begitulah, Beliau tidak pernah mengistimewakan dirinya sendiri dan tidak menganggap dirinya kebal hukum, pun demikian dengan seluruh anggota keluarganya. Pelanggaran hukum Allah adalah sebuah kesalahan dan tidak bisa benarkan untuk alasan apapun dan untuk siapapun.

Read the rest of this entry »

Posted in A Confession | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Do’a Shalat Dhuha

Posted by Ismadi Santoso on May 7, 2008

Atas nama kesibukan, menyepelekan, lupa dan segudang “excusessssss” lainnya, aku melewatkan sesuatu yang sebenernya sudah lama pengen aku cari dan pelajari. Sebegitu parahkah dunia melenakanku? Kembali kupertanyakan sejauh mana keseriusanku untuk belajar? Seorang sahabatku pun menasehati, bekerja memang penting Madi tapi bukan berarti kita harus menjadi mesin uang kan? Sejujurnya, kata2nya itu menohok banget si, tapi “Syukran ya Akhi” sudah nyempetin ngingetin temenmu yang satu ini. Jazakallah Khairan Katsiir. Dan akhirnya aku pun mulai belajar lagi 🙂

“Allahumma innad dhuha’a dhuhauka,
wal baha’a baha’uka, wal jamala jamaluka,
wal quwwata quwwatuka, wal qudhrota qudhrotuka,
wal ismata ismatuka
Allahumma in kaana rizqii fis sama’i fa’anzilhu,
wain’kana fil ardhi fa akhrijhu,
wa’inkana mu’assyiron fa yasyirhu,
wa’in kana haroman fathohirhu,
wa’inkana ba’idan faqorib’hu,
bihaqi dhuha’ika, wabaha’ika, wajamalika, wa quwwatika, wa qudhrotika,
aatini ma’ataiyta ibadakas sholihin.”

Read the rest of this entry »

Posted in A Confession | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Rapuh

Posted by Ismadi Santoso on May 6, 2008

detik waktu terus berjalan
berhias gelap dan terang
suka dan duka tangis dan tawa
tergores bagai lukisan

seribu mimpi berjuta sepi
hadir bagai teman sejati
di antara lelahnya jiwa
dalam resah dan air mata
kupersembahkan kepada-Mu
yang terindah dalam hidup

meski ku rapuh dalam langkah
kadang tak setia kepada-Mu
namun cinta dalam jiwa
hanyalah pada-Mu

maafkanlah bila hati
tak sempurna mencintai-Mu
dalam dadaku harap hanya
diri-Mu yang bertahta

Read the rest of this entry »

Posted in A Confession | Tagged: , , , , | Leave a Comment »